Perpaduan rasa gurih singkong dan pahit-manis teh selalu terasa pas, seperti dua sahabat lama yang saling memahami tanpa perlu banyak kata.
Oleh: M. Harry Mulya Zein, tinggal di Kota Tangerang, Indonesia

Sore ini hujan turun pelan, membasahi halaman rumah dengan bunyi yang menenangkan.
Aku duduk di dekat jendela, memandangi langit yang kelabu, sementara ingatanku melayang pada hal sederhana yang justru terasa begitu mewah saat ini: singkong goreng dan teh hangat.
Aku rindu aroma singkong yang digoreng setengah kering, berwarna kuning keemasan, dengan pinggiran yang sedikit merekah.
Ketika diangkat dari wajan, uapnya mengepul, membawa wangi minyak dan singkong yang khas—aroma yang selalu mampu mengundang senyum tanpa diminta. Biasanya, singkong itu ditaburi sedikit garam, tidak berlebihan, cukup untuk menegaskan rasanya yang jujur.
Di samping piring kecil berisi singkong goreng, selalu ada secangkir teh hangat. Teh tubruk, sederhana, dengan warna cokelat kemerahan.
Saat diseruput perlahan, hangatnya mengalir dari lidah ke dada, seolah meredakan segala lelah yang tak sempat diucapkan. Perpaduan rasa gurih singkong dan pahit-manis teh selalu terasa pas, seperti dua sahabat lama yang saling memahami tanpa perlu banyak kata.
Kini, aku hanya bisa merindukannya. Bukan karena sulit didapat, tapi karena suasananya tak selalu bisa dihadirkan kembali. Singkong goreng dan teh hangat bukan sekadar cemilan; ia adalah jeda, adalah kenangan tentang sore yang tenang, tentang obrolan ringan, tentang waktu yang berjalan lebih lambat.
Aku menarik napas panjang. Di luar, hujan masih turun. Dalam diam, aku berharap, sebentar lagi, ada piring singkong goreng dan secangkir teh hangat menemani rinduku—membuat sore ini kembali terasa utuh.(*)
Leave a comment