Oleh: Mohammad Nasir, Wartawan Senior, pernah bekerja di Harian Kompas (1989- 2018), peserta diskusi Forum Senja. 

Mohammad Nasir
  • Judul Buku: THE HUNDRED SECRET SENSES- Seratus Indra Rahasia 
  • Penulis   : Amy Tan
  • Alih Bahasa: Lanny Murtiharjana
  • Penerbit Pertama: Penguin Putnam (1995),
  • Penerbit Terjemahan: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006
  • Tebal: 424 Halaman
Buku Novel Amy Tan

BUKU yang ditulis Amy Tan ini mengajak pembacanya seolah-olah barada dalam praktik nyata berkomunikasi dengan penghuni “Dunia Yin”, dan turut merasakan suka dan duka kehidupan. 

Penuturannya penuh diskripsi, diselang-seling dengan narasi yang membawa pembaca serasa diajak ke “sana”.  Maklum dia seorang master linguistik lulusan Universitas San Jose, dan bekerja sebagai spesialis bahasa dalam program-program yang membantu anak-anak berkebutuhan khusus. Amy Tan menulis banyak esai dan buku, antara lain The Joy Luck Club. 

Dalam novel ini ia menceritakan tentang manusia yang sebenarnya kaya indra. Begitu banyaknya, penulisnya Amy Tan memberi judul Seratus Indra Rahasia.

Cerita tentang indra manusia selalu menarik dan tidak pernah basi. Sayang buku ini tidak mencantumkan daftar isi, sehingga pembaca harus langsung masuk ke dalam, menelusuri bab-bab yang kira-kira bisa dibaca terlebih dulu untuk memancing minat baca. 

Novel yang berangkat dari pengalaman pribadi ini menampilkan tokoh utama bernama Olivia yang selanjutnya  menggunakan kata ganti “aku” dalam sudut pandang bercerita. 

Olivia adalah anak Jack Yee, pegawai kantor akuntansi pemerintah di San Francisco, Amerika. 

Jack Yee, pria imigran asal China yang kemudian menetap di San Francisco dan kawin dengan Louise Kenfield, perempuan asal Moscow, Idaho (Amerika). Istri pertamanya meninggal di China tahun 1948, karena penyakit paru-paru. 

Olivia ingin sedikit meluruskan catatan genetiknya. “Kevin dan Tommy, kedua saudara laki-lakiku dan aku sendiri lahir di San Francisco,” kata Olivia. 

Di China, ayahnya meninggalkan anak gadis bernama Kwan yang dititipkan pada Li Bin-bin adik perempuan istrinya yang tinggal di Dusun Changmian di sebuah gunung. 

Sebelum meninggal, Jack Yee didatangi roh istrinya yang muncul di kaki ranjangnya. “Jemput putrimu atau kau yang akan menanggung akibatnya sesudah mati,” kata roh istri pertamnya yang meminta agar putrinya bernama Kwan dibawa ke Amerika. 

Setelah Jack Yee meninggal karena gagal ginjal, Kwan yang sudah berusia 18 tahun diambil dari China untuk tinggal bersama Olivia (Halaman 12). 

Di San Francisco, Kwan tinggal bersama ibu tirinya, Louise, dan adik-adik tirinya, termasuk Olivia. Nama “Olivia” selalu diucapkan oleh Kwan dalam logat China “Libby-ah”. Pernah Olivia protes, tapi Kwan hanya tersenyum. 

Kwan tumbuh menjadi gadis ceria, sering bercanda,  mengganggu adik-adiknya dengan cerita hantu dan orang-orang yang sudah meninggal. 

Kwan mulai menunjukkan kemampuan mata yin-nya yang bisa melihat “Dunia Yin” yang dihuni orang-orang yang sudah meninggal. 

Dalam novel ini, bab berjudul Seratus Indra Rahasia— sama dengan judul sampul— diletakkan menjadi bab khusus di halaman 117.  

Singkat cerita di bab itu, Olivia minta bantuan Kwan agar bicara pada teman Olivia bernama Simon. Olivia memberi tahu latar belakangnya, bahwa Simon saat itu sedang dirundung duka berat setelah kekasihnya, Elza meninggal di usia 21 tahun, akibat kecelakaan ski di Utah, tertimbun longsoran salju. Sementara Olivia sendiri juga mencintai Simon. 

Dengan mata yin, Kwan diminta mempertemukan Elza yang telah meninggal, dengan Simon melalui indra rahasia. Tujuannya supaya Simon bisa berkomunikasi dengan Elza, supaya terobati rasa rindunya.  

Olivia mengatur pertemuan Kwan dan Simon bertemu bertiga untuk makan malam. Simon hadir dan makan malam bersama. 

Namun sebelum makan malam, Kwan memberi sedikit tentang ilmunya pada Olivia. “Indra rahasia sebenarnya bukan rahasia. Kita bilang rahasia sebab semua orang punya, cuma lupa. Indra sama seperti kaki semut, belalai gajah, hidung anjing, kumis kucing, kuping ikan paus, sayap kelawar, kulit kerang, lidah ular, atau benang sari bunga. Banyak hal, tapi digabung jadi satu,” tutur Kwan (halaman 124). 

Olivia penasaran ingin tahu banyak. “Bagaimana aku menjelaskan?” kata Kwan pada Olivia. Menurut Kwan, mengenang, melihat, mendengar, merasa, semua datang bersamaan.

“Seperti salah satu rasa, aku tidak tahu cara mengatakannya. Misalnya rasa menggelitik. Kau tahu ini:  Tulang tergelitik berarti mungkin akan turun hujan, ingatan jadi segar. Kulit lengan tergelitik, ada sesuatu yang menakutkanmu, mengepungmu, kulitmu bisa merinding,” kata Kwan. 

“Gunakan indra rahasiamu, kadang-kadang kau bisa dapat pesan bolak-balik dengan cepat di antara dua orang, yang hidup, yang mati, tidak jadi masalah, indranya sama,” kata Kwan lagi.

Tapi jangan lupa, kata Kwan, kalau mau mencapai seseorang, harus merasakan perasaan orang itu, dan orang itu merasakan perasaanmu. “Seperti dua orang saling menyenangkan ketika bertemu,” kata Kwan. 

Lalu tiba lah waktu makan bersama. Selesai makan bertiga, Olivia kemudian mengajak Simon ke rumah Kwan. Kwan melihat gelagat mereka berdua ada yang aneh, tatapan mata mereka seperti saling mencinta. 

Kwan mengkonfirmasi apakah Simon senang dengan adik Kwan? Simon tidak bisa mengelak dan menjawab, “sangat”. 

Setelah makan, Kwan mengajak bergeser duduk di depan perapian buatan berbahan bakar gas. Olivia duduk di satu kursi dengan Simon, sementara Kwan duduk di kursi malasnya. 

Kwan mulai menggunakan mata yin-nya di depan perapian untuk bertemu orang-orang yang sudah meninggal melalui nyala api. 

Simon diajak melihat nyala api, asap, dan percikan-percikan kecil. Kwan bertanya pada Simon dengan suara dan senyum yang terlihat bagaikan jin. 

“Apakah Simon melihatnya?” tanya Kwan. “Melihat ada api,” kata Simon jujur. 

Kwan mengatakan, sedang melihat mahluk yin di perapian, di situ ada beberapa orang yang sudah mati. 

Kwan berkomat-kamit dan mengajukan sejumlah pertanyaan bertanya nama. Di perapian itu, kata Kwan, ada sosok yang mengaku bernama Elsie, tapi yakin Kwan salah ucap. Makhluk yin itu adalah Elza. 

Jawaban mahluk yin itu hanya Kwan yang bisa mendengarkan. Jawabannya kemudian disampaikan oleh Kwan pada Simon saat itu juga. 

“Sekarang Elsie bilang padamu Simon, kau jangan memikirkannya lagi. Ah? Hm.. Katanya, kau harus melupakannya. Sekarang dia sudah punya kehidupan baru. Chopin, Schumann, ayah dan ibunya,” kata Kwan kepada Simon.

Selanjutnya, Kwan menggiring Simon agar cepat mengambil keputusan yang baik untuk menemukan cinta sejatinya, yaitu hidup bersama Olivia. 

“Simon mengangguk-angguk, menyerap semua, dan wajahnya tampak sedih, sekaligus bersyukur. Saat itu aku seharusnya sangat bahagia, tetapi aku justru mual. Sebab aku juga melihat Elza. Aku telah mendengar kata-katanya,” kata Olivia. 

Simon akhirnya menjadi suami Olivia. Hidup penuh warna. Kadang-kadang ia menyesal, menyalahkan diri sendiri mengapa harus ikut bermain-main dengan makhluk yin. 

Tujuh tahun pertama perkawinannya dirasakan semua berjalan lancar, saling pengertian, dan saling mengalah. Hidup terasa bahagia. 

Tujuh tahun berikutnya, perkawinan diwarnai suasana panas, bahkan membara. Ia sering bertengkar dengan suaminya, hanya karena hal-hal kecil, sepele. 

Karena takut terjadi keributan yang berulang, keduanya berbicara sangat hati-hati, bahkan lebih banyak memendam kata-kata untuk mengomentari hal-hal kecil.

Kadang-kadang rasa curiga bangkit menajam. Ketika Simon pergi, Olivia naik ke ruang atas tempat kerja Simon. Hanya ingin tahu apa yang dikerjakan suaminya. 

Olivia baca label-label disket, lalu membukanya lewat komputer. Olivia menjadi lebih terpukul berat ketika membaca rancangan tulisan novel bab pertama suaminya yang di dalamnya menyebut nama kekasih Simon yang sudah meninggal, yaitu Elza. 

Olivia merasakan tumpukan beban yang tidak terucap. Ia meyakini suatu saat akan meledak. Bagaimana mampu tahan? 

Kadang-kadang ia merasa diperlakukan seperti anak kecil, dianggap tidak tahu apa-apa, diberi mainan, terus diam. 

Harapan dan keinginan yang seharusnya menjadi selingan dan gairah hidup, seakan-akan sudah mati. 

Akhirnya hubungan suami-istri berantakan, dan saling memisahkan diri. Sudah mau cerai. 

Tiba-tiba ada kiriman jawaban proposal yang dibuat Simon. Proposal itu berupa ajuan untuk menyusun esai foto tentang makanan tradisional China. Proposal diterima oleh majalah Lands Unknown”.

Kwan menyatakan akan ikut sebagai penunjuk jalan, karena ia orang China. Tinggal Simon dan Olivia yang alot untuk memutuskan berangkat berdua, karena keduanya berencanq bercerai. 

Tetapi Kwan mendorong Olivia harus berangkat bersama Simon. “Anggap saja pergi bersama  teman,” tutur Kwan. 

Akhirnya bertiga berangkat, dengan pesawat terbang dari San Francisco menuju Bandara Guilin di China. Selanjutnya menempuh perjalanan selama sekitar empat jam menuju Changmian, tempat kelahiran Kwan. 

Perjalanannya menyenangkan sampai Olivia dan Simon kembali menjadi suami-istri yang lebih mantap. 

Novel ini menarik untuk dibaca. Mengundang rasa ingin tahu, karena  indra yang dikenal banyak orang selama ini hanya lima, yakni penglihatan (mata), pendengaran (telinga), peraba (kulit), penciuman (hidung), dan pengecap (lidah). 

Tetapi ada yang bilang ada indra ke-6, yakni kemampuan menerima informasi di luar panca indra fisik, 

berusan dengan yang lembut dan lelembut. 

Namun Kwan berpesan jangan mengatakan mereka (makhluk yin) itu hantu. Sebutan hantu dirasakan menyakitkan dan rasis bagi mereka. Mereka itu seperti kita. “Boleh dikatakan hantu kalau jahat,” kata Kwan. 

Kwan menunjukkan bahwa dunia bukan lah suatu tempat melainkan keluasan jiwa. Jiwa tidak lebih dari kasih, tanpa batas dan tanpa akhir. 

“Aku pernah menyangka bahwa cinta seharusnya hanya membawa kebahagiaan. Sekarang aku tahu cinta juga berarti kekhawatiran, dukacita, pengharapan, dan percaya,” kata Olivia seperti ditulis Amy Tan (Halaman 419). 

Amy Tan menulis di bagian halaman akhir (419) sebagai penutup: Olivia menuturkan, “Percaya pada roh berarti percaya bahwa cinta tidak pernah padam. Bila orang-orang yang kita kasihi meninggal, mereka hanya hilang dari panca indra kita. Bila kita ingat, kita bisa menemukan mereka kapan saja melalui keseratus indra kita. Ini rahasia”.

Olivia juga masih bisa mendengar Kwan berbisik, “Jangan bilang siapa-siapa. Janji, Libby-ah”. (*)