Oleh: Yanto Soegiarto, Mantan Pemimpin Redaksi RCTI, Pemimpin Redaksi Indonesian Observer, Head of Content astaga.com, Managing Editor Majalah Globe Asia dan kolumnis Jakarta Globe.

Yanto Soegiarto

BEGITU besar empati masyarakat Indonesia terhadap bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Bencana di Pulau Sumatra ini terjadi pada pekan terakhir November 2025. 

Ini mengingatkan kita semua pada bencana gempa dan tsunami Aceh yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004, satu hari setelah Natal, 22 tahun yang lalu. 

“Keberangkatan team dokter ke Aceh dan semua fasilitas seluruhnya dibiayai oleh CSR perusahaan, bukan dari uang donasi. Namun para dokter tidak menerima fee karena niat, idealisme dan antusiasme mereka berangkat secara sukarelawan untuk membantu yang terkena musibah,” kenang Dr Ratna.

Gempa berskala Richter 9.3  dan tsunami dahsyat itu menewaskan ratusan ribu orang dan meluluhlantakkan pesisir Aceh. 

Peristiwa paling mematikan dalam sejarah modern ini kita peringati dan sikapi dengan ziarah, doa bersama, refleksi diri, edukasi mitigasi bencana, membangunan sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan menghadapi bencana di masa depan.

Mengenang bantuan sosial dan kemanusiaan menyusul targedi itu, RCTI Peduli termasuk yang bergerak cepat sebagai “first responder” dalam tahap awal penanggulangan bencana di Aceh. 

Tepatnya pada tanggal 27 Desember, 2004, advance team dari redaksi news diperintahkan oleh Direktur Utama RCTI Hary Tanoesoedibjo untuk segera berangkat ke Aceh dengan pesawat Hercules dari lapangan udara Halim Perdanakusumah. 

Tanpa pamrih dan semangat tinggi team berangkat dengan membawa logistik untuk menandakan kehadiran pertama RCTI Peduli di lokasi bencana dan mengadakan survey kebutuhan logistik untuk kegiatan operasional selanjutnya. 

Walaupun belum mengenal medan sepenuhnya, keberhasilan team news menembus ke lokasi bencana  tidak lepas dari peran koresponden news di Aceh.

“Sepulangnya dari Aceh, saya dipanggil oleh direktur utama  dan diperintahkan untuk menjadi Ketua RCTI Peduli. Saya langsung tanya, apakah ini akan downgrade posisi saya, karena tidak linier dengan news, beliau mengatakan butuh orang yang dipercaya untuk kelola uang donasi pemirsa RCTI,” ujar FA Prasetyo yang waktu itu manager news production. 

Perkembangan penyaluran bantuan dan kegiatan operasional di lapangan ditayangkan melalui program berita seperti Buletin Siang dan Seputar Indonesia. RCTI Peduli, yang embryonya lahir di redaksi sebagai Seputar Indonesia Peduli, juga menjalin kerjasama dengan Basarnas, menyediakan tenda penampungan, membangun hunian sementara serta menerjunkan para relawan untuk mengelola dapur umum di beberapa lokasi di Aceh. 

Pemilik supplier alat-alat broadcast Panasonic Hengky Sanjaya ikut menyumbang camera TV khusus untuk digunakan dalam peliputan kegiatan operasional di Aceh.

“Waktu saya pegang uang donasi yang terkumpul Rp 146 milyar. Hal ini karena pemberitaan yang gencar dan selalu ada laporan pertanggung jawaban di running text siaran televisi. Tentu saja karena sifat gotong royong masyarakat Indonesia masih kuat. Team kerja sosial harus solid, memberikan pertanggung-jawaban transparan serta dalam penentuan item bantuan,” ujar Prasetyo yang dihubungi di Yogyakarta.

Koresponden news di Aceh Marhiansyah mengatakan RCTI Peduli dan Lembaga Sosial Kemanusiaan Buddha Szu Tchi yang paling awal masuk ke lokasi di hari kedua disamping instansi Polri dan TNI yang memang sudah berada disana.

“Bantuan awal makanan, air hingga obat -obatan kita salurkan ke arah utara bandara di lokasi di mana pengungsi bertumpuk. Kita terpaksa menyewa dua truk ke arah selatan bandara hingga Lampuuk Lhoknga. Mahalnya sewa truk mirip dengan kondisi yang dialami para relawan banjir Sumatera sekarang,” ujar Marhiansyah melalui sambungan telepon dari Aceh.

“Setelah itu baru bantuan utama termasuk genset mengalir ke posko di dekat asrama Kodam Iskandar Muda. Mendistribusikan bantuan tidak mudah karena sangat mendesaknya kebutuhan korban dan juga banyaknya orang yang mengambil sendiri.”

“RCTI Peduli juga membangun IGD di RS Iskandar Muda Banda Aceh dan rumah tinggal tentara di Pidie, karena mereka juga korban Tsunami dan NGO tidak berani membantu mereka,” Prasetyo menambahkan.

Wakil presiden waktu itu Jusuf Kalla (JK) yang ditunjuk pemerintah sebagai pemimpin operasional penanggulangan bencana, memainkan peran krusial dalam mengambil keputusan cepat di Jakarta saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sedang berada di Papua. 

Karena sulitnya komunikasi dengan Aceh, ia langsung perintahkan  pengiriman bantuan tanpa menunggu laporan lengkap. JK juga mengeluarkan “fatwa” agar jenazah korban tsunami dikuburkan secara massal tanpa disalatkan satu per satu atau dimandikan secara normal untuk mencegah penyebaran penyakit.

Legal Manager RCTI waktu itu Farhan Jafar berangkat ke Aceh pada hari ketiga. Dia ikut menyalurkan bantuan untuk korban bencana yang dibeli di Medan untuk dikirim ke Posko RCTI Peduli di Banda Aceh.

“Posko kita di salah satu rumah dinas TNI berlokasi di Neusu, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh, yang dikenal strategis karena padat penduduk. Kita gunakan rumah tersebut secara free untuk kurang lebih dua bulan. Bantuan RCTI berupa bahan pokok terutama beras, makanan, susu anak-anak, selimut dan lain-lain,”

Sementara itu di Jakarta masyarakat berbondong-bondong datang ke desk RCTI Peduli di gedung samping RCTI untuk berdonasi. Dari segala penjuru masyarakat berbagai kalangan menyumbang dengan uang logam sekalipun hingga jumlah besar. 

Desk penerimaan donasi bekerja siang malam menghitung sumbangan tunai yang mengalir masuk dengan deras. Setiap rupiah dihitung, dicatat dan dibukukan.. 

Sumbangan asing juga mengalir. Waktu itu corporate secretary ikut menyaksikan dirut menerima donasi dari perusahaan Korea untuk pengadaan air bersih. 

Begitu juga jaringan TV Jepang NHK berkontribusi sebagai bentuk solidaritas sesama stasiun TV.

RCTI Peduli juga ikut membiayai pembelian avtur bagi penerbangan bolak balik yang menggunakan pesawat charter dengan pilot asing. 

Pesawat tanpa logo membawa logistik ke Banda Aceh dikawal oleh para relawan RCTI. 

Beberapa terobosan lain yang dilakukan oleh RCTI Peduli antara lain mengirim anggota satpam perusahaan sebagai tenaga relawan.

Mereka pun berangkat ke Aceh secara bergiliran setelah seminggu bertugas. Tidak hanya satpam, teknisi pun dikirim untuk membantu. Begitu juga karyawan di bagian lain di RCTI yang bersedia menjadi relawan.

Peran Dr Ratna Amalia dari poliklinik RCTI juga sangat besar. Dia dan suami Dr Dicky Rachmaniady Effendy, SpB, SpOT menggalang team dokter tulang berangkat ke Aceh untuk membantu di RSUD. 

Begitu juga para dokter relawan yang tergabung dalam kelompok pendaki gunung secara sukarela menyediakan diri membantu di rumah sakit di Aceh.

“Waktu itu saya minta izin ke wakil direktur utama Pak Sutanto Hartono. Suami saya almarhum berangkat bersama team redaksi dengan hanya membawa ransel  tentara di hari ke empat bertugas selama satu minggu disana. Baru tahap mengumpulkan dan memperlakukan jenazah dengan baik,” tutur Dr Ratna yang dihubungi Forum Senja di Bandung.

Setelah balik ke Jakarta, kata Ratna, almarhum kembali lagi ke Aceh lebih lama dengan team dokter yang lebih besar lagi termasuk yang tergabung dalam Tim Pencinta Alam FK Unpad AMP. 

“Keberangkatan team dokter ke Aceh dan semua fasilitas seluruhnya dibiayai oleh CSR perusahaan, bukan dari uang donasi. Namun para dokter tidak menerima fee karena niat, idealisme dan antusiasme mereka berangkat secara sukarelawan untuk membantu yang terkena musibah,” kenang Ratna. (*)