Datang lebih awal, mencatat dengan rapi, dan belajar hingga larut malam. Melihat peserta lain yang begitu cerdas dan berpengalaman, aku sadar bahwa satu-satunya cara bertahan adalah bekerja lebih keras.

Oleh : M. Harry Mulya Zein, lahir di Pandeglang, tinggal di Kota Tangerang- Indonesia

SELAMA tiga bulan aku mengikuti kursus di LPEM Universitas Indonesia (LPEM-UI). Pesertanya datang dari seluruh Indonesia—dari barat hingga timur, dari kota besar sampai daerah yang jarang disebut di peta. Kami membawa latar belakang, logat, dan pengalaman yang berbeda, namun dipertemukan oleh satu ruang belajar dan satu bidang ilmu: Regional Planning.

Hari-hari di LPEM-UI berlangsung padat dan disiplin. Modul tebal, peta wilayah, data statistik, serta diskusi kritis tentang ketimpangan pembangunan menjadi rutinitas. Di ruang kelas itu, tak ada yang merasa paling hebat. Semua diuji oleh waktu, ketekunan, dan kemampuan berpikir jernih.

Aku menjalani masa kursus dengan kesungguhan penuh. Datang lebih awal, mencatat dengan rapi, dan belajar hingga larut malam. Melihat peserta lain yang begitu cerdas dan berpengalaman, aku sadar bahwa satu-satunya cara bertahan adalah bekerja lebih keras. Tiga bulan terasa singkat, namun cukup untuk menempa mental dan keyakinan.

Saat pengumuman hasil akhir dibacakan, suasana mendadak hening. Ketika namaku disebut sebagai salah satu dari 10 besar peserta terbaik kursus Regional Planning, dadaku bergetar. Di antara peserta dari seluruh Indonesia itu, aku berdiri sejajar. Ada rasa haru dan bangga—bukan karena peringkat, tetapi karena usaha yang selama ini sunyi akhirnya menemukan pengakuan. Ini merupakan hadiah terprestigeous dalam hidupku dan sejak kecil bercita-cita ingin sekolah di Luar Negeri. Do’aku terkabul.

Kebanggaan itu mencapai puncaknya ketika diumumkan bahwa sepuluh peserta terbaik akan diberangkatkan mengikuti kursus lanjutan ke New South Wales University, Sydney, Australia. Tahun itu 1994. Dari ruang kelas sederhana di LPEM-UI, langkahku akan menyeberangi samudra, menuju universitas di belahan selatan dunia.

Keberangkatan ke NSW University bukan sekadar perjalanan akademik. Ia adalah simbol kepercayaan—bahwa anak-anak bangsa, dari berbagai daerah di Indonesia, mampu belajar, beradaptasi, dan bersaing di tingkat internasional. Di sana aku belajar bahwa perencanaan wilayah bukan hanya soal peta dan teori, melainkan tanggung jawab moral terhadap masa depan manusia dan tanah airnya.

Kini, ketika kenangan itu kembali hadir, aku menyadari satu hal: tiga bulan di LPEM-UI telah mengubah arah hidupku. Dari ketekunan yang sederhana, lahir rasa bangga yang tak pernah pudar—bahwa aku pernah melangkah jauh, dengan usaha sendiri dan kepala tegak.(*)

Leave a comment