Oleh : M. Harry Mulya Zein, tinggal di Tangerang

M. Harry Mulya Zein (Foto NAS)

AKU tidak pernah menyebut diriku kreatif sejak awal. Yang kutahu, aku hanya suka membaca. Dari buku, artikel, dan berita, aku belajar memahami cara berpikir orang lain dan melihat dunia dengan sudut pandang yang berbeda.

Di luar bacaan, aku gemar mengamati. Wajah-wajah di jalan, percakapan singkat di warung kopi, dan ironi sosial yang sering luput dari perhatian. Semua itu tersimpan di kepalaku, menjadi pertanyaan-pertanyaan kecil yang menuntut jawaban.

Aku mulai menulis untuk merapikan pikiran. Menyusun apa yang kubaca dan kulihat agar tidak sekadar lewat. Dari situlah aku menyadari, kreativitas bukanlah bakat tiba-tiba, melainkan proses menghubungkan gagasan dengan realitas.

Membaca membentuk caraku berpikir, mengamati mempertajam kepekaan, dan menulis memberiku ruang untuk memahami. Kreativitasku tumbuh perlahan—tenang, sederhana, dan terstruktur.