Saya amati gerakan berbagai macam ikan saat melaju cepat menuju butiran makanan. Semua menggunakan ekor yang dikibaskan ke samping kiri dan kanan yang menghasilkan efek dorong ke depan.
Oleh: Mohammad Nasir, Wartawan Senior

DALAM bulan Desember 2025 saya kembali intens berenang di kolam renang yang tersedia di club house perumahan tempat saya tinggal di Modernland, Kota Tangerang- Indonesia.
Airnya jernih, dasar kolam terlihat dari sudut manapun. Akan tetapi berenang pada bulan Desember sulit menentukan jam berapa harus turun ke kolam, karena hujan sering turun.
Menurut tradisi bila turun hujan, tidak boleh berenang, takut petir datang. Ketika berenang walaupun belum hujan, saya sering mendengar suara petir menggelegar samar-samar dari jauh. Desember 2025 langit sore sering mendung. Agak malas turun ke air, karena dingin terasa menembus dalam dada.
Pada bulan ini saya berenang tidak mengikuti gaya-gaya renang pada umumnya, seperti gaya bebas, gaya katak, atau menyelam di dasar kolam, under water.
Saya hanya mempraktikkan berenang seperti cara ikan berenang. Santai, tidak adu cepat. Menikmati gerakan kecil dalam air.
Seperti yang pernah saya amati sebelumnya, ikan berenang menggunakan ekornya yang dikibaskan menyamping kiri dan kanan. Ikan melaju dengan cepat.
Kibasan ekor ke samping kiri dan kanan menimbulkan daya dorong melaju ke depan. Semua ikan bergerak cepat dengan memanfaatkan kibasan ekor menyamping.
Dan, ikan-ikan itu berbelok arah dengan menggunakan sirip di samping lehernya. Gerakan kibasan mendorong itu lah yang saya amati.
Saya sering mengamati ikan dalam aquarium. Sebelumnya saya mengamati juga ikan bergerak lari sana-sini hampir selama satu jam di kolam ikan di tempat wisata Kuntum di Bogor, pada sekitar pertengahan tahun 2025. Saat itu saya mengantar istri sedang ada kegiatan lomba bikin kue dari komunitas Rumah Berbagi.
Saya menunggu di atas bibir kolam ikan, sambil melempar makanan ikan berupa butiran-butiran kecil yang disediakan di sebuah kedai di tepi kolam ikan.
Ikan-ikan sebesar paha orang dewasa berdatangan dengan cepat berebut makanan yang saya lemparkan. Saya amati gerakan berbagai macam ikan saat melaju cepat menuju butiran makanan.
Ada ikan patin, mujaer, gurame, dan bebeapa jenis ikan panjang yang saya tidak tahu namanya. Ada yang panjangnya sekitar setengah meter.
Saya membayangkan mengambil gerakan ikan berenang untuk berenang. Tetapi manusia tidak punya ekor sebagai pendorong ke depan. Kecuali telapak kaki yang dikibaskan ke atas dan ke bawah, bukan menyamping seperti ekor ikan.
Orang mengandalkan pendorong maju dengan kibasan telapak kaki ke bawah dan ke atas. Sementara kedua tangan difungsikan sebagai sirip untuk belok kiri-kanan dan mendayung maju bergantian dengan kaki.
Saya mempraktikkannya. Menyenangkan. Cara demikian juga saya gunakan untuk melatih renang, untuk mereka yang baru belajar.
Tentu saya minta mereka yang baru belajar mengendalikan pikiran agar tetap tenang, tidak takut air, dan pasrah. Bermain saja seperti ikan. (*)