Oleh: Mohammad Nasir, Wartawan Senior, Kolumnis, dan Penulis Kehidupan.

SAYA mendapat pelajaran berharga dari latihan khitobah (pidato). Saya menjadi tahu diri.
Saya punya banyak hambatan saat berpidato, suka demam panggung, tidak percaya diri.
Saya berkesimpulan waktu itu, saya tidak pantas menjadi pemimpin karena tidak bisa pidato. Saya hanya orang belakang meja.
Belakangan saya tahu saya termasuk golongan dominan introvert, bukan extrovert yang kalau disuruh bicara di depan umum seperti disiram gas, menjadi-jadi dan senang.
Tapi bagi introvert, bicara di depan umum terasa sebagai siksaan. Pinginnya segera selesai daripada salah ngomong dan tidak enak didengarkan. Orang introvert suka dan merasa terhibur batinnya saat menyendiri.
Melihat pohon diterpa angin, daunya melambai-lambai saja sudah merasakan kebahagiaan lewat daya khayalnya. Betah mengurung diri di kamar.
Ketika saya tahu tidak punya bakat pidato, saya menarik diri dari kegiatan-kegiatan semacam itu.
Di pondok pesantren, kalau ada kegiatan kumpul-kumpul, saya mengajak kawan untuk meninggalkan pondok pesantren malam hari menuju pesarean (makam ulama, pendiri pesantren Langitan) di Widang, pingir Jalan Raya Babat -Tuban.
Tujuan utama dalam hati menghindari acara yang menuntut harus tampil ke depan. Sampai depan makam pada malam hari tetap bersimpuh dan berdoa.
Saya sempat berpikir, jangan-jangan almarhum mbah yai tahu dan mengatakan, “Kamu ini santri malas menghindari latihan pidato, lari kemari dengan alasan ziarah kubur,”
Saya waktu itu sebagai santri Pondok Pesantren Darul Ulum, di kampung Langitan, Widang, Tuban pada tahun 1975.
Untuk menghindari saya harus ikut tampil di depan kawan-kawan, ibaratnya saya kemudian pergi ke hutan untuk bertapa, merenung mencari tahu, kenapa aku tidak seperti teman-teman. Oh, ini nasibku.
Tetapi perlahan-lahan saya belajar menguasai diri sendiri, membaca buku karangan orator dari seluruh dunia, dan baca-baca buku nasihat bagaimana bicara di depan publik.
Saya baca buku berbicara di depan publik yang ditulis oleh Larry King (November 19, 1933 – January 23, 2021), penyiar radio dan presenter TV Amerika, dan penginterview dalam acara Q&A TV CNN. Dia memberi motivasi berangkat dari pengalaman sendiri ketika awal menjadi penyiar radio. Dia sempat tidak bisa berbicara apa-apa saat dia harus mulai bicara. Sampai pintu ruangannya digebrak dan dia dibentak oleh pimpinan radio, agar Larry King segera bicara. Akhirnya dia bicara apa saja, sampai menjadi sangat “cerewet” di panggung.
Zaman tahun 1970-an, saya belum tahu ada kursus public speaking. Kursus hipnotis yang mengajarkan orang pandai public speaking dengan cara hipnotis juga belum ada. Saya baru tahu setelah belajar hipnotis.
Waktu itu saya masih remaja. Terbesit niat untuk mengalahkan kelemahan berbicara di depan publik, saya memilih kuliah untuk menjadi guru. Di situ pasti diajari cara mengajar, menyampaikan pelajaran di depan murid.
Ketika menjadi guru sekitar tahun 1983, saya diminta menjadi inspektur upacara bendera hari Senin di halaman Sekolah Menengah Atas (SMA) Nusantara di Tangerang, dan pasti harus berpidato memberi arahan pada anak didik.
Kelemahan bicara di depan umum sempat terasa menyergap diri saya. Sempat goyah, tetapi tidak sedahsyat dulu. Saya tidak menyerah.
Ternyata watak introvert tidak hilang. Tidak betah saya menjadi guru yang harus berbicara di depan murid, walaupun sempat menjadi kepala sekolah swasta, SMP Jakarta 2. Kepala sekolah lebih banyak menangani managemen sekolah daripada mengajar.
Maka saya beralih profesi menjadi wartawan di harian terkemuka di Indonesia, yaitu Kompas.
Di media ini saya sering didaulat berpidato, karena merangkap kegiatan ekstra sebagai Ketua Majelis Taklim Kompas Gramedia, dan Direktur Dana Kemanusiaan Kompas (DKK) yang berhubungan dengan masyarakat.
Dengan bertambahnya umur, alhamdulillah ada perubahan. Bicara di depan banyak orang, tidak pernah merasa takut. Biasa-biasa saja. Sering memberi pelatihan jurnalisme untuk wartawan dalam skala nasional, peserta dari beberapa provinsi dijadikan satu.
Saya berkesimpulan semua bisa dipelajari. Ada kemauan, ada jalan. Tetapi saya sebagai orang dominan introvert tetap menikmati kesendirian dengan memandang alam sekitar. Saya suka keluar- masuk hutan di seputar Lembang, Bandung, dan sekitar Gunung Burangrang. Nikmat sekali.