Dapur menjadi ruang paling jujur untuk mengukurnya. Dari sanalah aku tahu, apa yang berkurang, apa yang masih bisa ditahan, dan apa yang tak bisa lagi ditunda.


Oleh : M. Harry Mulya Zein, tinggal di Kota Tangerang— Indonesia

Warga menyerebu kebutuhan pokok sepeti, Beras, telur, gula, dan minyak goreng dalam operasi pasar yg diselenggaraka Pemkot Tangerang.

Menjelang pergantian tahun, aku selalu merasa waktu berjalan lebih cepat, sementara hidup justru melambat. Dapur menjadi ruang paling jujur untuk mengukurnya. Dari sanalah aku tahu, apa yang berkurang, apa yang masih bisa ditahan, dan apa yang tak bisa lagi ditunda.

Beras tinggal setengah kaleng. Minyak goreng mengendap di dasar botol, telur tersisa dua butir yang kusimpan seolah barang berharga. Air mineral hampir habis, gula menipis, dan teh celup hanya tinggal beberapa kantong. Lima kebutuhan pokok itu—beras, minyak goreng, telur, air mineral, gula, dan teh celup—menjadi penanda bahwa pergantian tahun bukan sekadar perayaan, melainkan soal kesiapan bertahan.

Aku tahu, menjelang akhir tahun harga-harga selalu merangkak naik. Bukan melonjak tiba-tiba, tapi bergerak pelan, nyaris tak terasa, hingga akhirnya kita menyadari bahwa uang yang sama tak lagi membeli hal yang sama. Setiap tahun ceritanya serupa, dan entah mengapa, kita selalu diminta memakluminya.

Sore itu aku pergi ke toko terdekat. Jalanan ramai oleh orang-orang yang membawa rencana besar: pesta, liburan, kumpul keluarga. Aku membawa daftar kecil, sederhana, namun terasa berat. Di rak beras, aku terdiam sejenak. Angkanya naik beberapa ribu dari bulan lalu. Minyak goreng tak jauh berbeda, telur dihitung lebih hati-hati, air mineral terasa makin wajib daripada pilihan. Gula dan teh celup pun ikut menyesuaikan, seolah tak ingin tertinggal dari arus akhir tahun.

Di antrean kasir, tak ada keluhan keras. Hanya napas yang ditarik lebih panjang, uang yang dihitung ulang, dan pandangan singkat antar pembeli yang saling memahami. Kami tahu, ini bukan soal salah satu dari kami, melainkan kebiasaan yang terus diulang: menjelang pergantian tahun, yang diuji lebih dulu selalu dapur.

Ketika total belanja disebutkan, aku mengangguk pelan. Masih cukup, meski menyisakan ruang sempit untuk hari-hari berikutnya. Aku pulang tanpa perasaan kalah, tapi juga tanpa rasa menang. Hanya ada kesadaran bahwa hidup sering kali berjalan di wilayah abu-abu—cukup untuk bertahan, belum tentu untuk lega.

Di rumah, aku menyusun belanjaan itu dengan hati-hati. Beras kembali mengisi kaleng, minyak goreng berdiri tegak, telur tertata rapi. Galon air terpasang, gula dan teh celup kutaruh paling depan. Benda-benda itu tampak sederhana, tapi di sanalah hidup sehari-hari disangga.

Malam kian larut. Dari kejauhan, suara petasan mulai terdengar. Orang-orang menghitung mundur, menyambut tahun baru dengan sorak dan cahaya. Aku menyeduh teh manis, menghirup uapnya perlahan. Hangatnya mengalir tenang, memberi jeda untuk berpikir.

Pergantian tahun akhirnya tiba. Tanpa pesta, tanpa resolusi besar. Hanya harapan kecil yang kusimpan diam-diam: semoga di tahun yang baru, hidup tidak selalu menuntut lebih banyak penyesuaian dari mereka yang hanya ingin bertahan. Dan semoga, secangkir teh hangat tetap cukup untuk menguatkan langkah di hari pertama yang baru. (*)