Oleh : M.Harry Mulya Zein, tinggal di Tangerang- Indonesia

Mendengarkan

Aku dulu mengira kepandaian berbicara adalah ukuran kecerdasan. Setiap diskusi, setiap perdebatan, aku selalu ingin menjadi orang pertama yang merespons. Kata-kata sering meluncur lebih cepat daripada pikiranku sendiri. Bagiku, diam terlalu lama terasa seperti kalah.

Suatu sore, di sebuah ruang pertemuan yang sederhana, aku duduk berhadapan dengan seorang kawan lama. Wajahnya tampak lelah. Ia bercerita tentang kegelisahannya—tentang pekerjaan yang tak lagi memberinya makna, tentang keluarga yang mulai terasa jauh. Seperti biasa, aku nyaris memotong ceritanya dengan saran dan penilaian. Namun entah mengapa, kali ini aku memilih diam.

Aku mendengarkan. Bukan sekadar menunggu giliran bicara, melainkan benar-benar mendengar: jeda dalam kalimatnya, nada suaranya yang turun, dan tatapan matanya yang sesekali kosong. Di sana aku sadar, ia tidak sedang mencari solusi. Ia hanya ingin dimengerti.

Ketika akhirnya aku berbicara, kata-kataku jauh lebih sedikit. Tidak ada nasihat panjang, tidak ada argumen. Hanya satu kalimat sederhana: “Aku mengerti, itu pasti berat.” Ia tersenyum tipis. Mungkin bukan karena jawabanku cerdas, melainkan karena untuk pertama kalinya ia merasa didengar.

Sejak saat itu aku belajar, respons yang baik lahir dari pendengaran yang utuh. Mendengarkan secara saksama bukan tanda kelemahan, melainkan kedewasaan. Dengan mendengar, aku memahami lebih dalam; dengan memahami, aku tak lagi tergesa-gesa menilai.

Kini aku tahu, pelajaran paling berharga yang kudapat adalah ini: sebelum merespons, dengarkanlah sepenuh hati. Karena sering kali, yang paling dibutuhkan seseorang bukanlah jawaban, melainkan kehadiran. (*)