Oleh: Kiyai Khalifah Dr Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si*

Muhammad Sontang Sihotang

Abstrak

Tawaf merupakan inti ibadah dalam umroh yang tidak hanya bermakna ritual fisik, tetapi juga mengandung dimensi tauhid dan transformasi spiritual yang sangat mendalam. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji rahasia agung tawaf sebagai proses transformasi tauhid melalui empat titik utama, yaitu Hajar Aswad sebagai awal kesadaran iman, Maqom Ibrāhīm sebagai simbol keteladanan tauhid, perjalanan spiritual dari Maqom Ibrāhīm menuju Rukun Yamani sebagai fase hijrah batin, serta doa mustajab dari Rukun Yamani menuju Hajar Aswad sebagai puncak permohonan seorang hamba. Kajian ini menggunakan pendekatan teologis-filosofis dengan analisis terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, hadis-hadis sahih, serta pendapat para mufassir klasik. Hasil kajian menunjukkan bahwa tawaf merupakan representasi ritual dari perjalanan tauhid Nabi Ibrahim yang membentuk kesadaran penghambaan total dan perubahan orientasi hidup seorang Muslim.

Kata kunci: Tawaf, Tauhid, Hajar Aswad, Maqom Ibrāhīm, Rukun Yamani, Doa Mustajab, Umroh.

  1. Pendahuluan

Dalam struktur ibadah umroh, tawaf menempati posisi paling fundamental karena menjadi simbol langsung dari hubungan vertikal antara manusia dengan Alloooh. Tidak seperti ibadah lain yang bersifat linier, tawaf dilakukan dengan gerakan melingkar mengelilingi Ka‘bah sebagai pusat tauhid. Gerakan ini mencerminkan bahwa kehidupan seorang Muslim seharusnya berporos sepenuhnya kepada Alloooh (Ibn Katsīr, 2002).

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar jamaah memaknai tawaf sebatas aktivitas fisik mengelilingi Ka‘bah tanpa memahami struktur spiritual yang terkandung di dalam setiap titik tawaf. Padahal, setiap sudut dalam tawaf, Hajar Aswad, Maqom Ibrāhīm, Rukun Yamani memiliki makna teologis dan historis yang berkaitan langsung dengan perjalanan tauhid Nabi Ibrahim sebagai bapak monoteisme (al-Qurṭubī, 2006).

Oleh karena itu, artikel ini berupaya mengungkap rahasia agung tawaf sebagai sistem transformasi tauhid yang terdiri dari tahap pembaruan iman, kontemplasi keteladanan, hijrah batin, dan puncak doa mustajab.

  1. Tawaf sebagai Orbit Tauhid

Secara konseptual, Ka‘bah merupakan simbol pusat tauhid umat Islam. Dalam Al-Qur’an, Ka‘bah disebut sebagai al-bayt al-‘atīq (QS. al-Ḥajj: 29), yaitu rumah tua yang menjadi pusat ibadah sejak Nabi Ibrahim. Tawaf yang mengelilingi Ka‘bah mencerminkan bahwa seluruh aktivitas kehidupan manusia sejatinya harus beredar di sekitar penghambaan kepada Alloooh semata (al-Rāzī, 2010).

Dari perspektif spiritual, tawaf mengajarkan tiga prinsip utama:

  1. De-sentralisasi ego, karena manusia tidak lagi menjadi pusat dirinya.
  2. Sentralisasi tauhid, karena seluruh gerak tubuh dan hati diarahkan kepada Alloooh.
  3. Kesatuan ummat, kerana seluruh jamaah bergerak dalam irama yang sama tanpa sekat sosial.

Dengan demikian, tawaf merupakan miniatur sistem kehidupan tauhid yang ideal.

  1. Hajar Aswad sebagai Titik Awal Transformasi Tauhid

Tawaf dimulai dari Hajar Aswad, yang secara simbolik merepresentasikan titik awal kesadaran iman dan pembaruan ikrar tauhid. Nabi Muhammad ﷺ bersabda bahawa Hajar Aswad dahulu diturunkan dari surga dalam keadaan putih, lalu menghitam karena dosa manusia (HR. Tirmidzi).

Menurut Ibn Katsīr (2002), hal ini mengandung pesan bahwa:

  • Fitrah manusia pada dasarnya suci,
  • Dosa menggelapkan hati,
  • Dan ibadah adalah sarana penyucian kembali.

Ketika seorang jamaah memulai tawaf dari Hajar Aswad sambil mengucapkan “Allooohu Akbar”, ia sejatinya sedang melakukan deklarasi pelepasan kesombongan duniawi dan pengakuan total atas kebesaran Alloooh.

  1. Maqām Ibrāhīm sebagai Titik Dzikir, Kontemplasi Tauhid, dan Keteladanan Spiritual

Maqom Ibrāhīm merupakan batu pijakan Nabi Ibrahim ‘alaihissalām ketika membangun Ka‘bah bersama Nabi Ismail   (QS. al-Baqarah: 125). Tempat ini bukan sekadar situs sejarah, melainkan titik perhentian spiritual (spiritual station) dalam tawaf yang menandai fase peneguhan tauhid melalui dzikir dan keteladanan pengorbanan.

Secara praktik, setelah menyelesaikan tujuh putaran tawaf, jamaah disunnahkan melaksanakan salat dua rakaat di belakang Maqom Ibrāhīm. Pada momen inilah sangat dianjurkan untuk memperbanyak dzikir inti tauhid, yaitu:

Subḥānalloooh  Wa Alḥamdulillāh  Wa Lā ilāha illalloooh 

Ketiga dzikir ini melambangkan tiga pilar kesempurnaan tauhid:

  1. Subḥānalloooh → Penyucian Alloooh dari segala kekurangan
  2. Alḥamdulillāh → Pengakuan bahwa seluruh nikmat bersumber dari Alloooh
  3. Lāa ilaāha illa Alloooh → Penegasan keesaan Allooh sebagai inti tauhid

Berhenti di Maqom Ibrāhīm sambil membaca dzikir ini melambangkan bahwa seorang hamba tidak hanya bergerak secara fisik dalam tawaf, tetapi juga berhenti secara sadar untuk menata ulang orientasi batinnya kepada tauhid yang murni. Ia menjadi simbol nyata bahwa bangunan tauhid berdiri di atas:

  • Ketaatan,
  • Pengorbanan,
  • Keikhlasan.

Dalam QS. Maryam ayat 47, Nabi Ibrahim menampilkan puncak akhlak tauhid ketika tetap mendoakan ayahnya meskipun ditolak secara keras. Ini menunjukkan bahwa tauhid yang sejati melahirkan kelembutan, kasih sayang, dan kebeningan jiwa, bukan kemarahan dan kebencian (al-Qurṭubī, 2006).

Dzikir Subḥānalloooh, Wal Alḥamdulillāah, Wa Lāa ilaaā ha illallāh menjadi sarana internalisasi akhlak tauhid tersebut di Maqom Ibrāhīm.

Dengan demikian, Maqom Ibrāhīm tidak hanya berfungsi sebagai:

  • Simbol sejarah pembangunan Ka‘bah,
    tetapi juga sebagai:
  • Titik penyelarasan antara dzikir, tauhid, dan teladan pengorbanan Nabi Ibrahim.

Secara spiritual, posisi Maqām Ibrāhīm berada setelah fase penyucian niat di Hajar Aswad dan sebelum fase hijrah batin menuju Rukun Yamani, sehingga ia menjadi jembatan transformasi antara kesadaran iman dan pengorbanan tauhid.

Salat dua rakaat di Maqom Ibrāhīm setelah tawaf mengajarkan bahwa:

Transformasi spiritual harus selalu disertai dengan teladan dan ketundukan total seperti yang dicontohkan Nabi Ibrahim.

Kiyai Khalifah Dr Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si

Kiyai Khalifah Dr Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si

Hajar AswadAyat 49Anugerah dan

  1. Dari Maqom Ibrāhīm ke Rukun Yamani: Fase Hijrah Batin

Perjalanan dari Maqom Ibrāhīm menuju Rukun Yamani tidak memiliki doa khusus yang ditetapkan Nabi ﷺ. Para ulama menjelaskan bahwa hal ini menunjukkan kebebasan hamba untuk berdialog langsung dengan Tuhannya (Alloooh) sesuai kebutuhan batin masing-masing (an-Nawawī, 2011).

Fase ini sejajar dengan QS. Maryam ayat 48, saat Nabi Ibrahim berkata:

“Aku akan menjauhkan diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Alloooh.”

Ini adalah simbol hijrah batin, yaitu pemutusan ketergantungan pada selain Alloooh, termasuk:

  • Ambisi dunia,
  • Ketergantungan emosional berlebihan,
  • Dan penyembahan tersembunyi kepada harta dan jabatan.
  1. Dari Rukun Yamani ke Hajar Aswad: Doa Mustajab sebagai Puncak Tawaf

Satu-satunya doa yang secara khusus dicontohkan Nabi ﷺ dalam tawaf adalah doa berikut, yang dibaca dari Rukun Yamani menuju Hajar Aswad:

“Rabbana ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fil-ākhirati ḥasanah, wa qinā ‘ażāban-nār.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Menurut para ulama, doa ini disebut sebagai doa paling komprehensif dalam Islamkarena mencakup seluruh orientasi hidup manusia: dunia, akhirat, dan keselamatan dari neraka (Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, 2005).

Fase ini sejajar dengan QS. Maryam ayat 49, ketika Alloooh mengganti hijrah Nabi Ibrahim dengan anugerah besar berupa keturunan para nabi. Ini menegaskan hukum spiritual:

Setiap pengorbanan karena Alloooh pasti diganti dengan anugerah yang lebih besar.

  1. Tawaf sebagai Replika Perjalanan Tauhid Nabi Ibrahim

Jika disusun secara konseptual, struktur tawaf sejajar dengan struktur perjalanan spiritual Nabi Ibrahim:

Dengan demikian, tawaf merupakan bentuk aktualisasi fisik dari perjalanan tauhid Nabi Ibrahim dalam sejarah kenabian.

  1. Kesimpulan

Tawaf dalam umroh merupakan sistem transformasi tauhid yang terintegrasi dan bertahap. Hajar Aswad menjadi titik awal pembaharuan iman, Maqom Ibrāhīm menjadi ruang kontemplasi keteladanan tauhid, perjalanan menuju Rukun Yamani menjadi fase hijrah batin, dan doa dari Rukun Yamani ke Hajar Aswad menjadi puncak permohonan yang sarat potensi kemustajaban.

Dengan memahami struktur ini, tawaf tidak lagi dipahami sekadar gerakan fisik, tetapi sebagai jalan perubahan hidup yang berorientasi total kepada Alloooh, sebagaimana telah dicontohkan secara paripurna oleh Nabi Ibrahim.(ms2).

Tentang Penulis:

Muhammad Sontang Sihotang

Kiyai Khalifah Dr Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si*

– Lulusan S-1 (Physics) USU, S-2 (Materials Physics) UI, S3 (Metaphysics Sufism) Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA) Kuala Terengganu – Malaysia Spesialis (Field Area Studies) in / @ Materials Physics, Metaphysics & Hipermetaphysics Sufistics,  Murid Thoriqoh Qodariah Wa Naqsabandiyah (TQN) & Thoriqoh Naqsyabandiyah (TN),  Penyelidikan dalam bidang Physics, Metaphysics Sufism & Abdimas Dalam Inovasi Produk untuk Food & Beverage Dari Tata Kelola Limbah Pesisir, Anggota Peneliti Pusat Unggulan Ipteks (PUI) Karbon & Kemenyan-Universitas Sumatera Utara, Kepala Laboratorium Fisika Nuklir, Universitas Sumatera Utara (USU)-Medan.                    https://linktr.ee/sontangsihotang,
https://linktr.ee/muhammadsontangsihotang