Di tengah rapat kantor yang tegang seperti karet jemuran ditarik maksimal, aku biasa melontarkan candaan ringan. Kadang garing, kadang justru sukses membuat semua terpingkal.
Oleh : M. Harry Mulya Zein, tinggal di Tangerang- Indonesia

Namaku Harry Mulya Zein alias HMZ, seorang pria biasa yang menjalani hari-hari dengan ritme sederhana: bangun, bekerja, dan menikmati secangkir kopi setiap pagi.
Namun suatu hari, saat duduk di teras sambil memandangi langit yang mulai jingga, aku tersadar—ternyata ada lima keunggulan dalam diriku yang selama ini tak pernah benar-benar kusyukuri.
Pertama: Aku ahli berpikir jernih dalam situasi genting.
Pernah suatu malam listrik mendadak padam. Orang serumah langsung panik, kecuali aku. Dengan tenang aku mencari lilin, menyalakannya seperti seorang maestro yang sedang memulai konser cahaya, lalu menenangkan semuanya. “Santai, ini cuma pemadaman, bukan serangan alien,” kataku. Seketika suasana berubah rileks.
Kedua: Aku jago menenangkan orang lain.
Suatu sore, tetanggaku panik karena ayam kesayangannya kabur. Dengan sabar aku menemaninya menyusuri gang-gang kecil sambil menebak kemungkinan arah pelarian si ayam. Tak sampai setengah jam, ayam itu kutemukan asyik berkeliaran di depan warung. “Bang, kalau nggak ada Abang, saya sudah putus asa,” katanya. Aku hanya tertawa—kadang, ketenangan bisa lebih ampuh dari kecepatan.
Ketiga: Aku punya selera humor yang aneh tetapi efektif.
Di tengah rapat kantor yang tegang seperti karet jemuran ditarik maksimal, aku biasa melontarkan candaan ringan. Kadang garing, kadang justru sukses membuat semua terpingkal. Yang penting, suasana mencair. Kata orang, dunia butuh lebih banyak tawa—dan aku kebetulan stok humornya banyak, meski tidak selalu berkualitas.
Keempat: Aku selalu berusaha berpikiran positif.
Macet? Bagiku itu kesempatan mendengarkan lagu lama yang sudah jarang kudengar. Hujan deras? Anggap saja alam sedang mengirimkan musik latar yang menenangkan. Bahkan saat rencana gagal, aku bisa berkata, “Ya sudahlah, mungkin ini cara hidup mengajarkanku sesuatu.” Dunia terasa lebih ringan ketika pikiran ikut ringan.
Kelima: Aku suka belajar hal-hal baru.
Aku suka banyak belajar di bidang saya, yaitu ilmu pemerintahan, sampai orang lain menyebutku sebagai pakar ilmu pemerintahan.
Saya akhirnya juga bekerja sebagai dosen ilmu pemerintahan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dan Universitas Indonesia.
Selain itu saya juga sebagai anggota dewan pakar ilmu pemerintahan pada Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Pusat.
Saya juga mencoba belajar memasak sebagai selingan. Memasak menu yang belum pernah kucoba, memperbaiki perabot yang rusak, atau mempelajari topik yang tiba-tiba menarik perhatianku—aku selalu ingin mencoba.
Kadang berhasil, kadang gagal total, tapi selalu ada ilmu baru yang didapat.
Sambil menatap sisa teh di cangkir, aku tersenyum. Selama ini aku sibuk melihat kekurangan, sampai lupa bahwa aku juga punya banyak keunggulan.
Lima di antaranya kini kubawa sebagai pengingat bahwa aku, Harry Mulya Zein, mungkin terlihat biasa di mata orang lain, tetapi aku tetap luar biasa dalam versi diriku sendiri.
One response
living are: 1) the ability to endure discomfort, 2) the capacity for genuine connection, 3) clear thinking to resist manipulation, 4) adaptability in learning, and 5) creating personal meaning. These interconnected skills form the foundation for navigating life with dignity and purpose, transcending circumstances.
Bagikan
LikeLike