Mengapa aku selalu ingin semua berjalan cepat? Mengapa langkahku selalu mendahului hatiku sendiri?


Oleh : M. Harry Mulya Zein, Tangerang- Indonesia

M. Harry Mulya Zein

Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar menguasai langit, aku selalu berdiri di depan cermin yang menempel di dinding kamar. Bukan untuk merapikan rambut atau memastikan kemeja rapi, tetapi untuk menatap seseorang yang sering kali sulit aku pahami: diriku sendiri.

Ada satu hal yang sejak lama ingin aku ubah dari diriku—ketidaksabaranku. Sifat itu seperti bayangan yang terus mengikuti ke mana pun aku pergi, muncul pada saat-saat yang paling tidak aku inginkan.

Aku ingat suatu pagi, ketika aku sedang terburu-buru menuju kantor. Jalanan macet dan motor di depanku berjalan pelan sekali. Tanpa berpikir panjang, aku menggerutu dan memaki dalam hati. Padahal pengendara itu adalah seorang ibu yang sedang mengantar anaknya ke sekolah. Ketika aku tahu itu, rasa bersalah menyergap seperti embun dingin yang menampar wajah.

Sejak saat itu, aku mulai bertanya pada diri sendiri: Mengapa aku selalu ingin semua berjalan cepat? Mengapa langkahku selalu mendahului hatiku sendiri?

Sore itu, sepulang kerja, aku duduk di teras rumah sambil memandangi langit yang perlahan berubah warna. Aku membiarkan angin sore menyelinap di antara jemariku, seolah mengajakku berbicara. Di keheningan itulah aku menyadari sesuatu—bahwa selama ini aku terlalu sibuk berlari, sampai-sampai aku lupa merasakan prosesnya.

Malam berikutnya, aku memulai kebiasaan baru. Bukan sesuatu yang luar biasa, hanya hal kecil: menarik napas panjang setiap kali hati mulai terasa panas. Mendengarkan dulu, baru merespons. Menghitung sampai tiga sebelum berbicara. Hal kecil, tetapi bagiku itu seperti membuka pintu menuju diriku yang baru.

Perlahan-lahan, aku merasakan perubahannya. Ketika seseorang membuat kesalahan, aku tidak lagi cepat naik darah. Ketika rencana tidak berjalan sempurna, aku tidak lagi menyalahkan keadaan. Ada ruang yang baru dalam diriku—ruang untuk memahami, menerima, dan memaafkan, termasuk memaafkan diri sendiri.

Aku belajar bahwa menjadi sabar bukan berarti tidak marah. Tetapi memilih untuk tidak membiarkan amarah mengambil alih kemudi hidupku. Dan pada akhirnya, perubahan ini bukan hanya membuatku lebih tenang, tetapi juga membuat orang-orang di sekitarku merasa lebih nyaman.

Kini, setiap kali berdiri di depan cermin, aku melihat seseorang yang masih sama—tapi cara ia memandang hidup sudah berbeda. Ia bukan lagi sosok yang mudah tersulut emosi, melainkan seseorang yang mulai belajar berdamai dengan dirinya sendiri.

Perubahan itu mungkin kecil. Tapi dari hal kecil itulah aku kini melangkah lebih ringan, lebih jernih, dan lebih utuh sebagai manusia.(*)