Oleh: Rachmad Bahari,
Soloensis

Rachmad Bahari

Sucitra adalah nama kecil Drupada, raja Pancala. Ia bersepupu dengan Kumbayana yang kelak menjadi Dahyang Durna.

Sucitra dan Kumbayana selain saudara sepupu juga teman seperguruan. Sucitra menekuni ilmu tata negara dan pemerintahan. Kumbayana menekuni ilmu perang. Kelak keduanya mengabdi di Hastinapura. Selain mengabdi, Sucitra juga berguru kepada Pandu.

Selain Sucitra ada pula Gandamana putra mahkota Pancala yang memilih menjadi patih di Hastinapura.

Sebagai sepupu Sucitra dan Kumbayana berjanji akan berbagi kenikmatan bersama. Sebagai murid kinasih sekaligus abdi yang setia dan mumpuni, Sucitra dinikahkan oleh Pandu dengan Gandawati, putri Prabu Gandabayu raja Pancala. Gandawati adalah adik Gandamana.yang menolak menggantikan ayahnya sebagai raja Pancala.

Sepeninggal Prabu Gandabayu, Sucitra naik tahta dan namanya menjadi Prabu Drupada. Drupada dan Gandawati memiliki tiga anak, Drupadi, Srikandi, dan Drestajumena.

Ketika Drupada sudah menjadi raja Pancala, datang Kumbayana menagih janji tetapi dengan cara yang tidak sopan, dengan memanggil Drupada dengan nama kecilnya Sucitra.

Melihat kelakuan Kumbayana yang tidak sopan, Kumbayana dihajar Gandamana hingga tubuhnya cacat. Selanjutnya Kumbayana menjadi guru ilmu perang di Hastinapura bagi para pangeran Kurawa dan Pandawa.

Posisi Gandamana sebagai patih Hastinapura rupanya diincar Suman atau Trigantalpati pangeran Plasajenar yang memilih mengikuti saudara kembarnya Gendari atau Gandari istri Destrarastra. Kelak Gendari menjadi permaisuri Hastinapura ketika Destrarastra menjadi raja ad interim ketika Pandu wafat menunggu Puntadewa dewasa untuk menggantikan Pandu ( walaupun harus melalui perjalanan penuh derita dan melalui perang besar Bharatayuda).

Suman memfitnah Gandamana sehingga Pandu menunjuknya menjadi patih Hastinapura. Gandamana marah karena fitnah Suman dan menghajarnya sehingga mukanya hancur dan disebut Sengkuni yang dalam bahasa Hindi konon berarti pengadu domba. Selanjutnya Gandamana memilih pulang ke Pancala.

Kumbayana yang telah menjadi Dahyang Durna kembali menagih janji kepada Drupada. Drupada akhirnya menyerahkan sebagian wilayah Pancala kepada Dahyang Durna dengan bantuan Pandawa dan Kurawa.

Gandamana yang kembali Pancala membuat sayembara, barangsiapa bisa mengalahkannya akan menjadi suami Drupadi. Bima maju memberanikan diri menghadapi Gandamana. Ketika hampir kalah, Bima menyebut nama ayahnya Pandu, seketika Gandamana mengendurkan serangan dan tanpa sengaja Bima menggerakkan kuku Pancanaka dan menghujam dada Gandamana.

Menjelang ajal Gandamana mewariskan kesaktiannya kepada Bima, Puntadewa, dan Arjuna. Selanjutnya Drupadi menjadi istri Puntadewa (dalam versi India Drupadi adalah istri bersama Pandawa lima).

Dalam Bharatayuda, Drupada yang berpihak pada Pandawa mati di tangan Dahyang Durna. Dahyang Durna mati di tangan Drestajumena putra Drupada.

Vyasa, Byasa, atau Abyasa penulis kisah epos Mahabharata terdiri dari 17 parwa dan diakhiri Bharatayuda. Abyasa mengggambarkan seperti dirinya menempati tahta yang sejatinya bukan haknya akan menimbulkan petaka hebat di kemudian hari.

Abyasa menempati tahta Hastinapura atau Gajahoya yang sejatinya milik saudara tirinya, Dewabrata atau Sri Wara Bisma. Sucitra menempati tahta yang seharusnya milik Gandamana. Dewabrata dan Gandamana ikhlas meninggalkan tahta yang diwarisinya karena tidak ingin mengingkari sumpah yang yang pernah diikrarkannya.

Secara etimologi su berarti baik, citra berarti gambaran. Dalam politik kekinian arti citra dalam politik menurut KBBI adalah gambaran diri yang ingin diciptakan dari seorang tokoh masyarakat.

Bila seorang tokoh masyarakat mengalami mobiltas politik vertikal hingga menempati tahta tertinggi melalui pencritaan dan enggan melepaskan tahtanya dan mewariskan kepada sulungnya melalui berbagai cara walaupun tidak etis dan menabrak aturan akan melahirkan masalah berkepanjangan?

Secara perlahan kemasan citra itu memudar dan mengelupas, aroma busuk mulai menusuk hidung orang ramai. Apakah tahta yang diwariskan melalui cara yang tidak senonoh dan citra yang memudar itu juga akan menimbulkan kecamuk hebat kelak di kemudian hari?

Sebagai seorang Jawa dan paham sedikit tentang cerita wayang, saya hanya menggunakan ilmu titen warisan leluhur untuk membaca tanda-tanda zaman – sambil mengingat esai Rm Dick Hartoko SJ yang merupakan rubrik tetap dalam Basis bertajuk Tanda- tanda Zaman dengan ulasan yang komprehensif dan mendalam.

Jadi ingat lantunan merdu Rafika Duri….citra engkaulah bayangan…..