Oleh : Dr. M. Harry Mulya Zein
– Pengajar Vokasi Ilmu Administrasi Pemerintahan Universitas Indonesia, dan Institut Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri.

+++
ADA tiga unsur utama yang menopang kemajuan di sektor pendidikan. Ketiganya adalah penerapan kurikulum pembelajaran yang ajeg, kecukupan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang mumpuni, dan ketersediaan Sumber Daya Manusia (Tenaga kependidikan) yang berkompeten, dan berintegritas.
Kemajuan sektor pendidikan ini memerlukan penerapan sebuah strategi yang efektif terlebih lagi pada era digitalisasi. Kesemuanya itu memerlukan perencanaan yang matang serta pilihan teknologi AI (Artificial Intelegent) yang mutahir.
Tujuannya untuk melakukan percepatan transformasi digital, dituntut untuk beradaptasi dengan cara-cara baru dalam proses belajar-mengajar.
Salah satu teknologi yang semakin banyak diadopsi adalah smart board, papan tulis pintar, takni papan tulis interaktif yang menggabungkan fungsi layar sentuh, proyektor, dan perangkat lunak edukatif.
Kehadiran papan tulis pintar menawarkan terobosan penting dalam mendukung pembelajaran yang lebih kolaboratif, menarik, dan efektif.
Smart board tidak sekadar menggantikan papan tulis konvensional, tetapi menciptakan pengalaman belajar yang lebih dinamis.
Guru dapat menampilkan materi multimedia, menulis atau menggambar secara langsung di layar, serta menyimpan hasil pembahasan untuk digunakan kembali.
Interaksi ini memungkinkan siswa lebih aktif berpartisipasi—mulai dari menjawab soal langsung di layar, memanipulasi objek, hingga melakukan presentasi kelompok.
Dalam konteks pendidikan Indonesia, papan tulis pintar dapat menjadi alat strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, terutama dalam implementasi Kurikulum Merdeka yang menekankan eksplorasi, kreativitas, dan kolaborasi.
Teknologi ini mendukung model pembelajaran diferensiasi, memudahkan guru menyesuaikan materi dengan kebutuhan siswa, serta membuka ruang belajar yang lebih multimodal.
Namun, pemanfaatannya juga menghadapi sejumlah tantangan. Ketersediaan infrastruktur, kesiapan guru dalam mengoperasikan teknologi, serta biaya pengadaan masih menjadi hambatan utama.
Tanpa pelatihan yang memadai, papan tulis pintar dapat berakhir hanya sebagai perangkat mahal yang tidak dimanfaatkan secara optimal.
Karena itu, diperlukan strategi komprehensif dari pemerintah dan sekolah, pengadaan perangkat disertai program pelatihan guru, perawatan berkala, serta integrasi Smart Board dalam perencanaan kurikulum.
Jika dioptimalkan, papan tulis pintar berpotensi besar meningkatkan keterlibatan siswa, memperkaya metode pembelajaran, serta mendorong lahirnya ekosistem pendidikan yang lebih modern dan berdaya saing.
One response
Implement
LikeLike