Pengunjung bisa sambil memancing ikan nila, ikan mujair dan wader ijo. Banyak rumah makan yang menyiapkan lauk ikan hasil tangkapan nelayan.

Oleh: Santoso Yunus, SE

Santoso Yunus,
Pemerhati masalah sosial ekonomi, dan budaya. Aktif mengikuti diskusi Forum Senja

Tempat favorit di desaku tidak jauh-jauh. Di sana ada telaga yang sangat luas, warna airnya biru. Namun warga mengenalnya bukan telaga, tetapi rawa. 

Pengunjung yang ingin main ke tengah disiapkan perahu bertenaga mesin. Tapi pengunjung harus siap-siap basah, karena percikan air akibat hempasan ujung perahu. 

Percikan airnya yang disambut angin kencang membasahi penumpang yang duduk di bangku terdepan. 

Bawen, nama desa tempat aku dilahirkan. Masuk wilayah Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. 

Satu desa udaranya sangat sejuk, dikelilingi bukit-bukit dan pepohonan yang menghijau. Di wilayah ini, bukit-bukit ditanami  pohon karet, coklat, kopi, dan lamtoro gung. 

Waktu aku masih kecil, sudah banyak tempat wisata di sekitar desaku. Semua indah dan menarik untuk dikunjungi

Kali ini, satu tempat wisata yang terkenal dan menjadi tempat paling favorit adalah Rawa Pening.

Rawa Pening

Lokasinya tidak jauh dari rumahku, tiga kilometer ke arah selatan, tempat ini selalu ramai dikunjungi wisatawan domestik untuk menikmati keindahan alam. 

Keindahan rawa/danau alam, danau asli, bukan danau buatan, pemandangan  gunung Merbabu dan Gunung Telomoyo  yang menjulang tinggi terlihat seperti bersebelahan. Pengunjung bisa sambil memancing ikan nila, ikan mujair dan wader ijo.

Sekiranya perut terasa sudah lapar, banyak warung makan  yang menyediakan menu ikan dan udang hasil tangkapan nelayan Rawa Pening. 

Bisa dibakar ataupun digoreng, dilengkapi sambal dan lalapan dedaunan yang sungguh luar biasa nikmat. Soal harga tidak perlu khawatir, sangat murah.

Pengunjung, apalagi yang hobinya mancing, dapat dipastikan seharian di tempat ini tidak akan bosan. 

Terdapat cerita legenda Rawa Pening yang begitu dikenal oleh masyarakat sekitar adalah legenda Baru Klinting, si anak naga. 

Dikisahkan, anak naga yang bernama Baru Klinting, yang lahir dari seorang ibu manusia dan ayah dewa.

Baru Klinting lahir dengan wujud seekor naga, namun ia memiliki hati yang baik dan ingin hidup seperti manusia lainnya. 

Namun, masyarakat desa tempat ia tinggal tidak menerimanya karena penampilannya yang aneh dan menakutkan. 

Mereka mengusir dan menghina Baru Klinting,. Tentu saja Baru Klinting menjadi merasa sangat sedih dan marah. 

Syahdan, Baru Klinting menantang penduduk desa untuk mencabut sebuah bambu yang ia tancapkan ke tanah. Setelah seluruh penduduk mencoba untuk mencabutnya, ternyata tidak ada yang berhasil, kecuali Baru Klinting itu sendiri. 

Sesaat setelah  Baru klinting berhasil  mencabut bambu itu, air meluap dari tanah dan membanjiri desa, membentuk danau yang sekarang dikenal sebagai Rawa Pening . 

Sebenarnya,  maksud Baru Klinting melakukan hal ini sebagai balas dendam atas perlakuan buruk yang ia terima dari penduduk desa.

Namun, sifat baik hati Baru Klinting tetap melekat, di dalam amarahnya.

Ia masih berbuat baik dengan  menyelamatkan seorang nenek tua yang selalu membela dan menolongnya saat penduduk desa membencinya. 

Baru Klinting  memberikan petunjuk kepada nenek tersebut untuk membuat perahu dan menyelamatkan diri sebelum bambu dicabut.

Sampai kini Rawa Pening menghidupi penduduk dari enam kecamatan yang mengelilingi Rawa Pening.