Oleh: Mohammad Nasir, Mantan Wartawan Kompas, Penulis Kehidupan.

Mohammad Nasir

PESONA apakah yang tersembunyi pada tokoh pahlawan? Refleksi tingkah laku mereka di masa lalu seperti apa? Siapa yang mestinya juga dinobatkan menjadi pahlawan? 

Tiga pertanyaan itu saya sampaikan dalam grup WhatsApp Forum Senja yang beranggotakan orang-orang yang sudah matang dalam berpikir, dengan berbagai latar belakang, serta pencapaian perjalanan hidup yang terbilang lumayan. 

Tetapi para anggota grup WA Forum Senja memilih tidak berpendapat, karena pendapat pro-kontra soal penobatan tokoh pahlawan untuk mantan Presiden Soeharto sudah merebak di luar. 

Tim Forum Senja memilih menyimak. Ini merupakan sikap bijaksana.  

Keluarga Pak Soeharto sendiri sudah tahu kalau di luar ada pihak-pihak yang tidak setuju terhadap pemberian gelar pahlawan untuk Pak Harto. 

Siti Hardijanti Rukmana, putri sulung Pak Harto yang hadir dalam acara pemberian gelar pahlawan untuk 10 tokoh oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, di Jakarta, Senin (10/11/2025), sempat berkomentar,  bahwa perbedaan pendapat adalah hal wajar, namun bangsa Indonesia harus tetap menjaga persatuan.

Sumber gambar dan infografis Harian Kompas (11/11/2025)

Kembali ke pertanyaan awal tersebut dirancang  untuk memancing gagasan atau ide yang berwarna untuk mengisi blog kolektif Caratan Forum Senja. 

Tetapi sampai Senin 10  November 2025 petang, gagasan segar tentang pahlawan belum terkumpul. 

Tim diskusi yang diharapkan memberikan sumbangsih pemikiran antara lain Dr M. Harry Mulya Zein (pengajar vokasi ilmu pemerintahan Universitas Indonesia/UI), Dr John Kaunang (dosen FISIP UI), Karim Paputungan (mantan Pemimpin Redaksi Harian Rakyat Merdeka), dan Yanto Soegiarto (Mantan Direktur Pemberitaan RCTI), M. Sarwani (wartawan ekonomi senior), Santoso Yunus (Pemerhati Masalah Sosial Ekonomi), Sudarno Wiwoho (Pemerhati Pendidikan dan Kebudayaan), Djaka Suryadi, PhD (Bankir Syariah), dan Tundra Meliala (Ketua Umum Asosiasi Media Konvergensi Indonesia). 

Saya melihat dari sisi manusiawi dan kemanusiaan. Hero (pahlawan pria) atau heroine (pahlawan perempuan) itu bukan superhero (pahlawan super) atau super perkasa. 

Tetapi hero atau heroine itu manusia biasa, berjuang untuk di luar dirinya untuk kepentingan manusia yang lebih luas, untuk demokrasi atau kemerdekaan. 

Mereka selain berjuang untuk persoalan di luar dirinya, juga untuk persoalan dalam dirinya. Jadi dalam diri pahlawan itu sebenarnya juga masih ada masalah. Baik masalah yang diketahui orang lain, maupun yang dirasakan sendiri. 

Jadi jangan berharap ada pahlawan yang bebas persoalan dalam dirinya sendiri. Karena mereka manusia biasa, persoalan dalam dirinya masih ada. 

Lalu apa pesona pahlawan? Mungkin  setiap orang punya pandangan dan khayalan yang berbeda. Bisa jadi ada yang mengatakan, perjuangan dan semangat pahlawan bisa menjadi teladan, membela kemanusiaan, dan lika-luku perjuangannya dramatis. 

Akan tetapi jangan menyamakan pahlwan (hero) dan pahlawan super (superhero). 

Pahlawan super atau superhero itu tokoh utama rekaan yang dirancang tidak punya kekurangan dalam dirinya. Bahkan diberi kemampuan rekaan melampaui kodrat manusia seperti bisa terbang, bisa menembus dinding tanpa lewat pintu, dan bisa membunuh orang lewat sinar laser yang keluar dari matanya. 

Tokoh-tokoh superhero seperti Superman, Batman, The Flash ( yang memiliki kecepatan luar biasa), Aquaman (raja laut), Hulk (raksasa hijau), GT-Man, dan Invisible Man itu rekaan, diberi pakaian dan aksesoris  gemerlap.

Superhero buatan Amerika ini menjadi barang dagangan Hollywood, untuk jualan film, animasi atau video games dalam budaya populer. Meski para superhero berangkat dari cerita kehidupan sehari-hari. 

Harapan dan khayalan penonton menjadi lebih terpenuhi daripada sekadar membaca komiknya. Biasanya cerita superhero diadaptasi dari cerita komik yang sukses di pasaran. 

Jadi pahlawan itu memang masih banyak masalah dalam diri mereka. Jangan membandingkan dengan superhero. 

Masih lebih masuk akal kalau pahlawan itu ditampilkan dari berbagai unsur masyarakat, pahlawan ditampilkan dari seribu wajah yang mewakili semua bidang kehidupan. 

Santoso Yunus kawan kami di Forum Senja menegaskan mestinya di semua bidang ada wakil yang dinobatkan menjadi pahlawan. 

Sebut saja ada pahlawan olahraga, ekonomi, hukum, devisa, kenanusiaan, buruh, industri, kesehatan, dan lain-lainnya. 

Jadi bukan hanya didominasi pahlawan pemanggul bedil. (*)

One response

  1. asrohmandar69 Avatar

    Kita butuh pahlawan sejati untuk isi perut hari ini dan masa depan bung πŸ™πŸ€—

    Like