Ditulis oleh Djaka Suryadi, PhD
Kita akan kehilangan momentum pertumbuhan
Bayangkan jika selama tiga tahun hidup kita tidak berubah—tidak ada peningkatan ilmu, ibadah, relasi sosial, atau kontribusi. Maka betapa luar biasa meruginya diri ini, tidak bisa dibayangkan :
- Kita akan kehilangan momentum pertumbuhan.
- Potensi diri akan terpendam, sehingga tidak ada seorangpun yang akan mendekat kepada kita, karena kita tidak berguna di mata lingkungan hidup kita.
- disamping itu kita akan terjebak dalam kebosanan, bahkan keputusasaan.
- Kita akan jauh dari sunnah Rasulullah SAW yang mendorong perubahan dan perbaikan.
Kita pahami Islam sebagai agama perubahan tentu akan sepakat bahwa stagnasi adalah suatu penyakit kronis yang harus kita hindari, karena hal tersebut sangat merugikan kehidupan kini dan masa depan kita.
Sebagai hamba Allah SWT, yang terbiasa terdidik selalu aktif sejak kecil oleh orang tua kita, bahwa pendidikan Al-Qur’an dan Sunnah menuntun kehidupan kita untuk terus bergerak menjadi lebih baik, dengan optimisme yang kuat, dengan cara terus memperbaiki diri, dan selalu berkontribusi kepada semua pihak yang kita jumpai dimanapun kita berada, maka jika hidup kita tidak berubah dalam tiga tahun, bisa dibayangkan akan seperti apa diri kita?!,
Rasulullah SAW adalah teladan dalam perubahan dan pembaruan. Beliau tidak pernah membiarkan umatnya terjebak dalam kebiasaan yang tidak produktif. Kita selalu diingatkan dengan tuntunan abadi :
- Surah Ar-Ra’d ayat 11:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menjadi landasan utama bahwa perubahan adalah tanggung jawab individu dan masyarakat. - Surah Al-Hasyr ayat 18:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
(QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini mendorong refleksi dan perencanaan masa depan, bukan hidup dalam rutinitas yang stagnan. - Hadist Riwayat Muslim :
“Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi.”
Hadist ini menunjukkan bahwa stagnasi adalah kerugian, dan perubahan adalah keberuntungan.
Sebagai inspirasi kita semua, saya coba untuk berbagi tips metode sukses: 5W+1H ini bukan sekadar teknik analisis, tapi juga cerminan dari prinsip Islam tentang berpikir, merencanakan, dan bertindak. Dengan memahami:
- Apa yang ingin dicapai,
- Mengapa itu penting,
- Siapa yang bisa mendukung,
- Di mana dan kapan itu akan terjadi,
- serta Bagaimana cara mencapainya,
Pmaka seseorang akan lebih siap menghadapi tantangan dan meraih kesuksesan dunia dan akhirat.