Oleh: Rachmad Bahari,
Soloensis

DALAM perspektif budaya Jawa, raja belum tentu berarti penguasa atau ratu.
Raja brana artinya artinya permata dan atau logam mulia. Raja peni lebih spesifik untuk menyebut anggon-angon atau perhiasan.
Raja Peni juga menjadi nama salah satu kereta kencana keraton Surakarta. Kereta kencana Kiai Raja Peni, kereta tipe landau buatan Cardiff Wales, UK.
Kereta tipe landau beratap convertible, bisa dibuka tutup , atau cabriolet. Kyrsi pada jerrta jenis landau pasa umumnya bisa diputar ke arah depan maupun belakang.
Kereta Kiai Raja Peni, adalah kereta yang digunakan sinuwun untuk enggar-enggar panggalih, jalan-jalan santai untuk menuruti kata hati.
Kereta Kiai Raja Peni, dulu sering digunakan jalan-jalan Susuhunan PB X setiap hari Kamis berkeliling kota menyebar sedekah atau udhik-udhik berupa uang logam yang dibagikan dengan cara disebar. Pada rute yang dilalui orang ramai sudah siap menunggu untuk mendapatkan udhik-udhik.
Lama kelamaan tradisi menantikan udhik-udhik di hari Kamis itu mengalami perluasan makna. Orang minta-minta dinamai pengemis , meskipun tidak selalu di hari Kamis.
Raja kaya adalah sebutan untuk hewan ternak, utamanya ruminasia, baik yang kecil seperti kambing dan domba, maupun yang besar seperti sapi dan kerbau.
Raja Mala, ksatria monster air yang tercipta dari penyakit dewi Durgandini ketika bersanggama dengan Palasara dalam rangka penyembuhan penyakit kulit yang berbau amis.
Raja Mala dijadikan saudara angkat Durgandana dan Durgandini dari Wiratha. Durgandana ketika naik tahta bergelar Prabu Matswapati. Durgandini kelak menjadi Dewi Setyawati permaisuri Prabu Santanunurti raja Hastinapura. Durgandini memiliki putra Byasa, atau Abyasa, atau Vyasa hasil hubungan dengan Palasara.
Byasa adalah penulis cerita Mahabharata yang kelak menurunkan Destrarastra, Pandhu Dewanata, dan Yamawidura. Pandhu dan Destrarastra kelak menjadii Raja Hastinapura. Pertikaian wangsa Kuru keturunan Destrarastra dan keturunanan Pandhu kelak bertikai dalam perang besar Bharatayuda.
Raja Mala dan makhluk jejadian limbah pembuangan penyakit Rupakenca dan Kencakarupa kelak oleh Matswapati dijadikan patih dan senapati Wiratha. Dasar tidak tahu diri ketiganya masalah bersekongkol untuk melakukan kraman atau makar untuk.merebut tahta Wiratha.
Raja Mala yang monster air adalah makhluk jahat yang tidak bisa mati ketika bersentuhan dengan air.
Oleh karena ditakuti, Keraton Surakarta memasang patung kepala Raja Mala di perahu korvet yang dibangun pada masa Susuhunan PB V. Cantik atau kepala perahu beserta replikanya kini tersimpan di Museum Radyapustaka, Museum Keraton Surakarta, dan pesanggrahan Langeharja.
Pemasangan Raja Mala pada kepala perahu dimaksudkan sebagai deterrent effects (efek penggentar) bagi yang berniat mengganggu perjalanan eskader perahu Keraton Surakarta.
Yang menjadi tanda tanya adalah keputusan Walikota Surakarta Gibran Rakabuming Raka menjadikan Raja Mala sebagai ikon pariwisata Kota Surakarta dan mascot Asean Paragames.
Entah insiprasi dari mana menempatkan makhluk jahat sebagai ikon pariwisata. Hebatnya tidak ada yang mengingatkan atau sudah ada, tapi yang bersangkutan ndableg. Itulah orang kalau tidak suka membaca, wawasan dan kemampuan literasinya patut dipertanyakan.
Raja berikutnya adalah raja wana atau kematian kuda. Sedangkan raja pati mengacu pada peristiwa pembunuhan.
Kalau ratu dalam perspektif budaya Jawa sudah pasti raja. Kalau ratu bersifat genderless, bisa lelaki, bisa perempuan. Tempat tinggal raja disebut kedaton yang berasal ke-datu-an. Tempat datuk atau orang yang paling dihormati. Tempat tinggal raja juga disebut keraton yang berasal dari kata ke – ratu -an.
Dalam permainan kartu ceki atau kartu cina, hanya ada kartu ratu yang genderless, beda dengan kartu remi yang memiliki kartu raja dan kartu ratu.
Itulah sedikit omon-omon tentang senarai kata raja dan ratu dalam perspektif budaya Jawa.
Hari ini Keraton Surakarta berduka S.I.K.S Pakubuwana XIII mangkat. Sugeng tindak sinuwun swarga langgeng.