Oleh: Karim Paputungan, Wartawan Senior, Mantan Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka (karimpaputungan@gmail.com)

Karim Paputungan
Di antara menu yang ditawarkan

Menikmati Poffertjes
di Maison Bogerijen

++
DI jantung kota Bandung, terdapat sepotong jalan yang menjadi primadona di kalangan wisatawan. Ya, jika Yogyakarta punya Jalan Malioboro, Bandung punya Jalan Braga.

Meski panjangnya hanya sekitar 850m. Jalan yang membentang dari selatan ke utara ini sudah menjadi salah satu tujuan wisata wajib di kota yang dijuluki Paris van Java.

Andesit
Daya tarik utamanya adalah nuansanya yang elegan, bahkan romantis. Terlebih lagi di malam hari. Jalan utamanya dilapisi lempeng batu andesit, bukan aspal, menjadikannya samar berkilap di bawah lampu jalanan. Trotoar ditata rapi, namun juga hidup dengan para pedagang lukisan yang memajang hasil karya mereka.

Di kedua sisi jalan, terdapat beragam kafe, restoran dan usaha yang memikat pengunjung dengan tampilan yang elok.

Sejumlah bangunan masih bergaya kolonial, memberikan sentuhan sejarah yang unik.

Saat saya mengunjunginya di malam hari bersama keluarga pada suatu hari Minggu di Oktober 2025, suasana Jalan Braga begitu hidup. Turis lokal beserta mancanegara wara wiri dan nongkrong bersantai menikmati suasana malam.

Bandros
Jalan Braga biasanya ditutup setiap hari libur untuk kendaraan bermotor. Namun pada kali itu dibuka satu arah, karena adanya pengalihan arus. Bus wisata yang menyerupai trem: Bandros– Bandung Tour on Bus sesekali lewat, membawa rombongan pelancong. Tampak menyolok dengan kerlap kerlip lampuu warna warni.

Braga Permai
Pun, di tengah keramaian jalan Braga dengan kedai-kedai barunya yang gemerlap, ada satu restoran yang telah berdiri sejak 1923. Braga Permai, eksis selama 102 tahun tujuan kami malam itu.

Ada tetenger penanda 100 tahun di dalam resto dengan tulisan:
“Kisah Titik Teduh– 100 Year Anniversary.”

Sejarahnya dimulai di tahun 1918. Ia dibuka sebagai Maison Bogerijen oleh L. Van Bogerijen.

Lokasi awalnya di persimpangan bragaweb dan oude hospitalweeg (sekarang Jalan Braga dan Jalan Lembong). Menurut piagam yang terpampang, ialah satu-satunya restoran yang memiliki izin membuat kue khas Kerajaan Belanda. Barulah pada tahun 1923 mereka menempati alamat sekarang, di Jalan Braga No 58.

Walau sudah mengalami sejumlah perbaikan dan peremajaan, manajemen restoran tetap mempertahankan sebagian unsur-unsur klasik arsitektur restoran. Terdapat dua area, area luar untuk tamu yang ingin merokok, dan area dalam yang bebas asap rokok.

Sebenarnya, area luar yang terbuka ke suasana malam jalan Braga juga menggoda, namun sebagai non-perokok, kami memilih area dalam.

Di salah satu sisi tembok, terpajang foto-foto hitam putih dari masa lalu restoran ini. Potret jajaran staf dan rombongan tamu menatap kami dari balik pigura. Banyak figur orang-orang Belanda, ataupun Hindia Belanda, di antaranya.

Poffertjes
Kami memesan menu-menu yang kami rasa khas, yaitu poffertjes, pizza Braga, dan ayam panggang, juga minuman pendamping.

Menu yang pertama keluar adalah poffertjes. Adonan tepung dibentuk bulat dan ditaburi gula halus serupa salju, didampingi saus coklat. Dimakan hangat-hangat, teksturnya yang lembut bagai meleleh di mulut, dengan rasa manis gula dan gurih dari mentega.

Ternyata di dalamnya juga ada sudah ada coklat yang tersembunyi, sebuah kejutan yang manis.

Pizza
Pizza Braga disajikan dengan gaya adonan tipis yang garing, tentunya dengan lapisan keju dan saus tomat. Pugasannya daging sapi asap dan jamur kancing. Sederhana, namun cukup menggugah selera. Apalagi jika dimakan dengan saus sambal.

Terakhir, ayam panggang. Pendampingnya ada potongan kentang, pilihan saus (kami memilih saus jamur), juga sayur kembang kol, buncis, dan wortel.

Dimasak dengan pas, ayamnya terasa matang dan lezat, juga masih terasa lembut. Rasanya gurih, terutama jika disantap dengan saus dan kentangnya yang cenderung asin.

Live Music

Seusai makan, kami lanjut meniti Jalan Braga. Live music bersahut-sahutan dari dalam kafe dan restoran, bahkan dari biduan pinggir jalan. Sudah banyak toko baru dan kekinian, seperti photo box dan gelato.

Restoran-restoran seperti Braga Permai yang tidak lekang oleh waktu berbaur dengan toko yang baru seumur jagung, senantiasa melestarikan pesona jalan Braga. Masa kini dan masa lalu saling berpadu, bukan beradu (*).