Saya sempat berpikir siapa tahu saya dapat jodoh orang Bandung
Khayalan: M. Nasir

Kalau boleh diputar ulang waktuku, saya ingin diulang mulai tahun 1977. Ketika itu saya baru tamat Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Patria di Babat, Jawa Timur.
Kenapa saya harus diulang pada tahun itu? Saya ingin mengatur ulang di kota mana saya harus kuliah.
Waktu itu saya memilih tempat kuliah di Jakarta di fakultas keguruan sastra dan seni. Yang saya pikirkan bukan tempat kuliahnya, tetapi kota di mana saya seharusnya menuntut ilmu.
Belakangan ketika semua sudah berlalu saya mempertanyakan diri saya sendiri, kenapa saya tidak pilih kota Bandung, Jawa Barat, berhawa sejuk, orang-orangnya ramah, sopan, dan banyak perempuan terlihat cantik-cantik. Saya sempat berpikir siapa tahu saya dapat jodoh orang Bandung. Jawabannya singkat kenapa saya tidak pilih Bandung saja: tidak ada yang mengajak saya ke Bandung waktu itu.
Sempat juga saya berpikir kenapa tidak memilih kuliah di kota Bogor? Kota ini dalam bayanganku kedengaran romantis dan sejuk. Bogor memang terkenal kota hujan. Dingin. Saya berkhayal juga kalau saya di Bogor akan memilih tinggal di Kelurahan Megamendung. Enak kedengarannya.
Bahkan saya pernah main ke Malang, kenapa saya tidak mencari ilmu di kota itu?. Di Malang dingin, tidak jauh dari kota kelahiranku di Lamongan.
Intinya saya ingin mengambil keputusan ulang di kota mana mestinya mencari ilmu pengetahuan dan selanjutnya meniti karier di sebuah kota yang nyaman, aman, dan lingkungan udaranya sehat.
Kenapa dengan Jakarta? Waktu itu di Jakarta banyak penjahat. Setiap terminal bus ada penipu, ada pencopet, dan udara panas.
Di Terminal Bus Grogol (Jakarta), saya pernah ditipu orang. Jam tangan saya dibeli orang dengan uang asing, entah saya lupa uang mana. Ketika uang saya tukar di tempat penukaran uang nilai mata uangnya jauh lebih rendah dari mata uang rupiah.
Belum lagi handphone saya digerayangi pencopet di mobil umum dan kereta api commuter, semua dokumen dan foto-foto dalam handphone lenyap terbawa penjahat. Untungnya kuliah di Jakarta saya bisa sambil bekerja.
Keinginan saya untuk berkarya di Bandung rupanya didengar oleh penyelenggara alam semesta ini. Pada tahun 2000 pimpinan saya menugaskan saya menjadi Kepala Biro Harian Kompas Jawa Barat dan Banten yang berkantor di Jalan RE Martadinata, Bandung. Saya bersyukur.
Jadi lah saya merasakan tinggal di Bandung. Sekaligus sebelumnya Tuhan memberi jodoh saya perempuan dari Bandung.
Semua saya syukuri. Saya ini hanya mengandai-andai belaka. Mana mungkin memutar waktu ke belakang!