Oleh: Rachmad Bahari,
Soloensis

Rachmad Bahari

Kasekten atau Kesaktian

Dalam dunia pewayangan ajian atau kasekten, kesaktian para ksatria dapat diperoleh melalui berbagai cara, seperti berguru kepada orang sakti, bertapa, atau mengalami ujian dalam hidup, dan yang terakhir menerima anugerah dewata berupa wahyu.

Bima dan Arjuna adalah ksatria yang gemar menuntut ilmu , bertapa, dan sering mendapat ujian yang berat. Keduanya juga beberapa kali tercatat mendapatkan wahyu.

Dari ksatria pejuang wangsa Pandawa, sejatinya Bima yang paling berjasa. Ketika Bharatayuda berakhir dengan kemenangan Pandawa, ia juga tidak mendapatkan apa-apa. Bahkan semua putranya tewas di medan perang.

Dalam percintaan, Bima tidak pernah beristri manusia. Istrinya pertamanya Nagagini. Dari namanya sudah tampak bahwa ia adalah golongan ular, putri Hyang Anantaboga, dewa penguasa perut bumi, penghuni dasar bumi langit lapis ketujuh atau Saptapratala.

Istri keduanya adalah raksesi yang dioplas Dewi Kunti menjadi perempuan jelita,Dewi Arimbi,namanya. Putri Kala Tremboko, penguasa Pringgadani. Dalam wayang gagrak Surakarta istri Bima hanya dua. Dalam gagrak Yogyakarta istri Bima ditambah bangsa udang yakni Urangayu dan gagrak Banyumas menambahanya satu lagi dari golongan udang-udangan, atau dalam biologi disebut crustacea, Dewi Rekatawati. Rekata dalam bahasa Jawa berarti kepiting.

Meski sesama ksatria, Arjuna sang adik lebih beruntung. Arjuna tampil lebih hedon, dan tidur selalu dengan perempuan cantik. Lelananging Jagad, atau Don Juan kelas dunia itulah julukan yang pas untuk Arjuna. Selain itu sebagai penerima wahyu Makutharama, kelak anak turunnya yang menjadi penguasa.

Hastinapura setelah kembali ke Pandawa dan disatukan dengan Amarta atau Indraprsata dipimpin oleh Parikesit, cucu Arjuna, putra Abimanyu yang juga menerima wahyu Cakraningrat.

Gatotkaca, tidak pernah bertapa, dan tidak mengalami masa remaja, dari bayi langsung dewasa, karena mandi banyu gege atau air penggegas masa.

Semua kesaktian yang melekat di tubuh Gatotkaca adalah pemberian dewata. Tahta Pringgadani juga diberikan begitu saja oleh ibunya, walaupun sempat bertikai dengan para paman yang saudara kandung ibunya, dan tewas di tangannya.

Mereka adalah Brajadenta, Brajamusthi, dan Brajalamatan. Paman yang sangat menyayanginya Kalabendana, juga tewas di tangan Gatotkaca, walau tanpa sengaja. Gatotkaca mati muda sebagai senapati dalam Bharatayuda.

Meskipun tidak mendapat apa-apa di akhir hidup Bima ikhlas. Walaupun dalam perjalanan hidup Pandawa yang paling bekerja keras adalah Bima, ia tidak punya pamrih dan tidak amibisius. Bima pantas diteladani karena ikhlas dan jauh dari sifat “melik”. Melik, pamrih atau ambisi sering menggendong lupa, seperti tamsil Jawa “melik nggendhong lali”.

Bima dan Arjuna adalah alumni Universitas Sokalima, di negara Hastinapura yang dipimpin guru besar Dahyang Durna yang ketika muda bernama Kumbayana. Bima paling sering mendapat ujian berat dan selalu lulus cumlaude.

Sementara Arjuna adalah mahasiswa kinasih sang guru besar, bahkan supaya tak terkalahkan dalam keahlian memanah, Dahyang Durna tega memutus jari muridnya lain yang lebih jago, Raden Palgunadi. Itulah Arjuna yang tampan, hedonis, dan keturunannya yang menjadi penguasa.

Mahasiswa lain dari trah Kuru, seperti Duryudana dan Dursasana, tidak menyelesaikan pendidikan di Universtas Sokalima. Duryudana mendapat ilmu kebal senjata dari sang Ibu Dewi Gendari. Ketika diminta menghadap ibunya yang melepas hijab matanya, Duryudana malu ketika harus bertelanjang bagian kemaluan dan pahanya masih tertutup kain sehingga terhalang dari pandangan sang ibu.

Kelak bagian itu yang menjadi titik lemah dalam bertempur melawan Bima dan menjadi jalan menuju kematiannya.

Duryudana, melanjutkan pendidikan bermain gada dengan guru iparnya sendiri, Baladewa, raja Mandura. Baladewa beristri Erawati atau Irawati, Duryudana beristri Banowati, dan Karna Basusena beristri Surtikanti. Erawati, Banowati, dan Surtikanti adalah putri raja Mandaraka Prabu Salyapati, yang ketika muda bernama Narasoma.

Dursasana belajar ilmu intrik, subversi, dan infiltrasi dari sang paman Sangkuni, Arya Suman, alias Trigantalpati, yang juga saudara kembar Dewi Gandari, putra-putri Prabu Gandara raja Plasajenar.

Sangkuni meski tidak memiliki kesaktian mumpuni, tapi memiliki kepakaran untuk mengatur strategi, terutama dalam melakukan subversi dan pecah-belah dan adu domba. “Nabok nyilih tangan” atau memukul dengan menggunakan tangan orang lain adalah cara yang sering digunakan untuk menghancurkan lawan. Sangkuni adalah pembisik utama bagi Duryudana ketika hendak membuat putusan penting Hastinapura.

Sengkuni mendapatkan kesaktian tidak bisa mati, karena mandi tumpahan minyak tala warisan Pandu yang menjadi rebutan antara Pandawa dan Kurawa. Karena kesal dengan rebutan warisan antarsepupu itu, Destrarastra membuang cupu yang berisi botol minyak tala.

Ketika dalam proses membuang Sangkuni menyenggol lengan Destrarastra yang buta, sehingga minyak tala itu tumpah. Melihat tumpahan minyak tala, Sangkuni bergegas melepas bajunya dan segera berguling di tumpahan minyak tala.

Konon ia menjadi kebal, kecuali bagian duburnya. Kelak bagian dubur itu menjadi jalan bagi Bima untuk menusukkan kuku Pancanaka untuk membeset seluruh kulit Sangkuni.

Dari wiracarita Ramayana ana ajian Sakti Pancasona yang dimiliki Subali dan diturunkankan kepada Rahwana. Ajian yang lain adalah Rawarontek, milik Resi Wisrawa yang diturunkan kepada Danapati putranya, yang juga raja Lokapala.

Aji Pancasona dan Rawarontek kurang lebih sama yang pemiliknya tidak bisa mati ketika bagian tubuh masih menyentuh tanah.

Aji Pancasona dan Rawarontek beradu ketika dua saudara seayah, Rahwana dari Alengka dan Danapati dari Lokapala berempur.

Karena tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah, Barhara Guru mengutus Narada supaya mengakhiri perang dan menarik Danapati ke Kahyangan. Sebelum ditarik ke Kahyangan, Danapati menyerahkan aji Rawarontek kepada Rahwana. Selanjutnya Danapati ditahbiskan menjadi dewa bergelar Dewa Dana Iswara atau Danaswara, dewa kekayaan.

Dalam dunia nyata, kita melihat seluruh presiden melucuti sendiri kesaktiannya setelah tidak lagi berkuasa kecuali satu orang. Ia mengambil sikap selayaknya dapat terus hidup selayaknya pemilik aji Pancasona dan Rawarontek sekaligus.

Hidupnya selalu haus kuasa selayaknya Sangkuni walaupun raganya mulai rusak digerogoti penyakit, tidak juga bisa menghentikan nafsu berkuasa sehingga selalu cawe-cawe dalam kekuasaan.

Dari ferita dalam wayang ditunjukkan bahwa tidak ada kesaktian yang berlaku sepanjang masa. Ada awal pasti ada akhirnya jua, meskipun dikisahkan ada raja yang menolak takdirnya.

Orang seperti itu pasti lupa hukum alam, setiap pemimpin ada masanya dan setiap masa memiliki pemimpin sendiri.

Hanya orang-orang yang serakah dan loba yang selalu berhasrat memperpanjang masa kuasanya.

Duh Gusti!