Catatan: Tundra Meliala, Ketua Umum Asosiasi Media Kovergensi Indonesia

Saya suka sekali makan gurame pesmol. Setiap kali melihat ikan gurame segar di pasar, saya langsung terbayang aroma bumbu kuningnya yang harum, berpadu dengan sedikit asam dari cuka dan rasa gurih dari santan. Pesmol ini salah satu hidangan khas Sunda, tapi selain banyak ditemukan di daerah Jawa Barat, juga di Betawi dengan sedikit perbedaan bumbu.
Bahan utamanya tentu ikan gurame yang berdaging tebal dan tidak mudah hancur saat digoreng. Setelah dibersihkan, ikan biasanya dilumuri garam dan jeruk nipis dulu supaya tidak amis, lalu digoreng sampai kulitnya kering dan renyah. Nah, bagian paling penting dari pesmol justru ada di bumbunya.
Bumbunya terdiri dari kunyit, bawang merah, bawang putih, kemiri, jahe, dan lengkuas yang dihaluskan, lalu ditumis bersama daun salam, serai, dan cabai merah iris. Setelah harum, ditambahkan sedikit air, garam, gula, dan cuka atau air asam jawa. Di beberapa versi, ada juga yang menambahkan santan encer untuk menambah rasa gurih. Setelah kuahnya mendidih dan mengental, barulah ikan gurame yang sudah digoreng tadi dimasukkan dan dimasak sebentar agar bumbunya meresap sempurna.
Soal rasa, gurame pesmol ini luar biasa nikmat. Daging ikannya lembut, berpadu dengan kuah kuning yang gurih, sedikit pedas, dan segar dari sentuhan asam. Rasanya kompleks tapi tetap ringan. Kalau dimakan dengan nasi hangat dan sambal terasi, bisa-bisa nambah dua piring tanpa sadar.