Catatan: Rachmad Bahari,
Soloensis

Rachmat Bahari

IJAZAH adalah salah satu surat berharga di bidang pendidikan yang menyatakan seprang siswa/ murid/ peserta didik telah berhasil menyelesaikan dan lulus sesuai dengan derajat atau jenjang pendidikannya.

Di masa Orde Baru, istilah ijazah pernah berganti dengan Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah dan untuk jenjang pendidikan tinggi tetap memakai nama ijazah. Kini semuanya kembali menjadi ijazah untuk seluruh jenjang pendidikan.

Ijazah palsu, atau sebut saja imitasi karena hanya tiruan dari yang asli, sudah beredar sejak dahulu kala hingga kini. Seiring dengan tertibnya dunia pendidikan, ruang gerak para penggunanya makin sempit, karena akan mudah ditelusuri riwayat pendidikannya. Orang yang sekolahnya tidak beres akan mudah dilacak jejaknya dan mutasi siswa antarsekolah semua tercatat di kementerian yang membawahinya. Tapi, adakalanya, ada orang superkuat yang mampu menghapus dan mencuci data (data cleaning dan data cleansing) seseorang siswa karena perilaku yang tidak patut dan harus keluar dari sekolah yang bersangkutan. Dan catatan di sekolah itu memang tidak lagi ditemukan nama yang bersangkutan.

Kekacauan kronologi riwayat pendidikan yang tercatat di lembaga yang satu dengan yang lain menjadi tidak sinkron. Aneh saja wong sekolah setara SMA selama lima tahun

Di Indonesia di masa penjajahan ada pendidikan setara SMA saat ini yang harus ditempuh selama lima tahun. Hal itu merupakan lanjutan pendidikan dasar berbahasa Belanda selama selama tujuh tahun. Lulusan ELS atau sekolah dasar berpengantar bahasa Belanda untuk golingan Eropa dan para bangsawan selama tujuh tahun bisa langsung ke HBS lima tahun dan setelah itu masuk perguruan tinggi. Presiden Sukarno menempuh pendidikan ELS Mojokerto, HBS Surabaya, dan THS kini ITB Bandung.

Siswa sekolah pribumi berpengantar Belanda HIS tujuh tahun dapat melanjutkan ke MULO atau pendidikan antara selama empat tahun. Untuk lulusan ELS cukup tiga tahun tanpa melalui kelas persiapan MULO merupakan sekolah antara karena lulusannya dipersiapkan dapat bekerja karena memiliki keterampilan level klerikal. Bagi yang ingin melanjutkan ke jenjang berikutnya bisa masuk AMS, setara SMA sekarang dengan jurusan A saatra, B ilmu pasti- alam dan C sosial-ekonomi. Lama pendidikan di AMS tiga tahun.

Di zaman Republik jenjang pendidikan dasar enam tahun, menengah pertama tiga tahun, dan nenengah atas tiga tahun.

Jelas pendidikan zaman Belanda lebih berkualitas. Bagi produk SMA jadoel seperti saya dan belajar fisika mengginakan kumpulan soal yang dihimpun Widagdo Mangunwiyoyo, atau soal kimia Pater Peperzak OFM, pasti akan kesulitan mengerjakan sial yang diambil dari soal ujian AMS dan HBS. Saya mengalaminya. Soal esei tampaknya sudah langka dan diganti pilihan ganda.

Kembali ke soal kronologi riwayat pendidikan yang kini berlanjut ke pengadilan. Di situs web Pemkot Surakarta pada awalnya sangat manipulatif, Pendidikan orang yang disoal itu disebut S2 dengan menyatakan menempuh pendidikan UTS Insearch setelah lulus S1 MDIS. Belakangan UTS Inserach ternyata disetarakan SMK. Padahal sejenis bimbel yang lamanya antara satu hingga tiga semester. Jika bimbel sampai tiga tahun ya ngapain saja, jika hal itu benar.

Keterangan pendidikan yang pernah dinyatakan setara S2 itu sekarang sudah tidak ada lagi di situs web Pemkot Surakarta. Hal itu menunjukkan bahwa sejak awal orang itu tidak jujur.

Terkait ketidakjujuran saya jadi teringat lagu pop Jawa Koesplus Ela – Elo ciptaan Yok Koeswoyo yang dinyanyikannya sendiri.

Ela-Elo

Pitik cilik, pitik cilik mlebu omah mabur mabur
Omah gedhe, omah gedhe pinggir tegalan
Isih cilik, isih cilik gampang diatur
Bareng gedhe, bareng gedhe ugal ugalan.

Ela elo sawo dipangan uler
Ela elo wong bodho ngaku pinter
Ela elo aja sok dha ngapusi
Ela elo mengko getun tiba mburi

Ela elo sawo dipangan uler
Ela elo wong bodho ngaku pinter
Ela elo aja sok dha ngapusi
Ela elo mengko getum tiba mburi

Manuk blekok, manuk blekok kecanthol eri
Wetan kali, wetan kali omahe wewe
Arep alok, arep alok ora wani
Merga ngerti sing gawe bapakne dhewe.

(diulang dari awal sekali lagi)

Lirik lagu jenaka itu sangat relevan dengan kondisi kekinian. Saya coba interpretasikan secara bebas, tapi kontekstual dalam ranah budaya Jawa.

Ketika masih kecil dan merangkak dari bawah sangat penurut. Ketika sudah besar dan merasa kuat perilakunya ugal-ugalan.

Kita terpedaya oleh orang yang tidak pandai tapi mengaku dirinya pintar.
Jangan suka berbohong dan menipu, sesal kemudian tiada guna.

Ketika ada perilaku yang tidak patut, tidak ada yang berani menegur atau mengingatkan, karena pelakunya “bapak sendiri” yang punya kuasa.

Percayalah, kebenaran pada saatnya akan tiba, walaupun jalannya sangat pelan atau malah datang terlambat.

Ijazah, oh ijazah. Bapak dan anak 11-12. (*)