Oleh: M. Nasir Asnawi
(Wartawan Utama, Penguji Kompetensi Wartawan, dan aktivis diskusi Forum Senja)

UNJUK rasa untuk menyampaikan protes terhadap ketidakadilan, dan kecurangan yang merugikan orang banyak, kini semakin mendapat saluran luas di era serba internet.
Protes melalui saluran media cetak masih ada, tetapi sekarang didominasi lewat tulisan melaui media online.
Ragam tulisan di media online dan cetak, tetap sama,ada beragam karya jurnalistik, tulisan opini di media masa, dan karya sastra berupa cerita pendek (cerpen) yang mendapat tempat di media massa.
Todak dapat dipungkiri di era internet aksi protes semakin banyak salurannya. Masing-masing berlomba dulu-duluan di banyak saluran.
Gerakan protes melalui media sosial dengan menggunakan bermacam aplikasi sekarang sering digunakan. Ini adalah model baru yang mengikuti zaman internet.
Ada podcast, WhatsApp, Facebook, Youtube, dan lain-lainnya efektif, terutama kalau sampai viral.
Gerakan media sosial itu seperti demo, semakin banyak dibaca, semakin banyak diikuti, semakin efektif, sehingga terkenal dengan istilah tidak viral, tidak ada keadilan (no viral, no justice).
Meskipun demikian masih ada yang menyalurkan cara lama yang tetap efektif, yakni berdemonstrasi, turun ke jalan atau unjuk rasa.
Seperti terjadi Rabu
(13/8/2025) demonstran memprotes Bupati Pati Soedewo yang berencana menaikkan pajak bumi dan bangunan hingga 250 persen.
Demonstrasi turun ke jalan ini memang berisiko. Bisa berujung kerusuhan, karena massa tidak mampu mengendaikan emosi.
Demo Nepal pada Minggu kedua September 2025, menelan puluhan korban orang meninggal, lainnya luka-luka, sejumlah kantor pemerintah hancur dibakar dan dirusak.
Unjuk rasa Nepal memprotes korupsi dan penutupan sejumlah aplikasi media sosial yang menjadi saluran generasi muda untuk menyampaikan kritik. Ini terjadi setelah
demonstrasi besar-besaran pada Agustus 2025 di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jakarta.
Sebelumnya demo Jakarta juga sudah menggelinding liar melalui jalur protes media sosial dan jurnalisme.
Unjuk rasa Jakarta menuntut kepekaan dan keadilan perlakukan terhadap para anggota DPR yang diberi gaji dan tunjangan sangat besar, juga disertai pembakaran-pembakaran gedung dan fasilitas umum di Jakarta.
Presiden RI Prabowo Subianto dalam suatu kesempatan menanggapi demonstrasi yang merusak itu, meminta agar semua usulan dan protes disampaikan secara proporsional, tidak merusak.
Prabowo minta menyampaikan aspirasi tidak dilakukan dengan cara merusak. Semua usulan akan ditanggapi.
* * *
PROTES bisa menggunakan banyak cara. Salah satunya bisa melalui lirik lagu. Banyak lirik lagu yang membuat telinga pejabat yang tidak jujur panas bagaikan kena sentilan keras.
Kritik lewat karya jurnalistik di media massa juga sudah lama dipraktikkan, karena pers punya fungsi sebagai kritik sosial. Begitu juga karya opini melalui artikel yang dimuat oleh media massa.
Ada protes melalui lirik lagu, atau tulisan karya jurnalistik, dan artikel opini. Bahkan melalui karya sastra seperti cerita pendek (cerpen) juga bisa untuk menyampaikan protes dan kecaman.
Berbicara dan menyalurkan kritik lewat media adalah hak asasi kita bersama. Akan tetapi bisakah kita tetap menghargai hak hidup orang dengan cara tidak mengakibatkan orang meninggal dunia, tidak membuat masyarakat rugi akibat perusakan dan pembakaran fasilitas publik.
Demontrasi yang tidak merusak, tentu menjadi harapan kita semua. (*)