M Nasir Asnawi

Catatan M. Nasir Asnawi

Mumpung belum terhapus, catatan lama ini, saya tulis di sini. Tulisan ini merupakan catatan dari Retreat Nasional Perguruan Silat Persatuan Gerak Badan (PGB) Bangau Putih 12- 14 Juli 2019 di Tugu Puncak, Jawa Barat.

Retreat PGB Bangau Putih kali ini mendapat apresiasi peserta yang berjumlah 45 orang, sebagian besar pelatih dan asisten pelatih.

Materi yang disajikan dalam retreat dapat dikatakan sebagai kajian mendalam yang membedah semua aspek dalam gerakan silat/sam po kun/taokung PGB, dan menyentuh bagian terdalam kedelapan aspek yang dibedah. Kedelapan aspek itu adalah menggerakkan tangan, pundak, pinggang, kaki, timing, tempo, feeling, dan posisi.

Pada tahap pertama, peserta diberi kesempatan melakukan kontemplasi atau merefleksikan aspek-aspek gerak sesuai keinginan sendiri. Apa yang didapat peserta dalam kontemplasi itu selanjutnya dipresentasikan secara lisan dan gerak di depan kelompok kecil dan kelompok besar. Dalam presentasi gerak peserta diminta menerapkannya dalam silat secara sendiri yang dilanjutkan dengan berpasangan penyerang.

Setelah semua peserta paham dan merasakan pengalamannya pada pada sesi pertama, peserta pada sesi berikutnya mengolah tubuh dengan memasukkan delapan aspek tersebut. Peserta diminta melakukan gerakan jalan panjang satu dengan merasakan kesadaran delapan aspek tersebut.

Aspek gerakan tangan, pundak, pinggang dan kaki harus benar-benar disadari dan dirasakan. Begitu pula aspek timing, tempo, feeling, dan posisi, harus menjadi kesadaran dalam satu paket gerak jalan panjang yang dipraktekkan.

Sesi yang tidak kalah seru adalah sesi menciptakan gerak sendiri dalam satu rangkaian gerak. Peserta diminta menciptakan gerak tiga langkah rangkaian gerak saja yang bisa diaplikasikan dalam beladiri.

Semua peserta menciptakan gerak dengan memasukkan beberapa aspek tersebut. Masing-masing kemudian tampil di tengah lingkaran besar para peserta, dan menjelaskan gerakan ciptaannya sendiri, serta menggerakkannya mulai gerakan slow motion sampai yang cepat. Lalu peserta diminta memperagakan gerakan ciptaannya saat diserang lawan.

Untuk simulasi gerak satu peserta lain dipanggil untuk menyerang dan memukul, sementara peserta pencipta gerak merespon dengan gerak tiga langkah. Hasilnya, hampir semua penyerang jatuh.

Para peserta yang tampil dengan menggunakan gerakan sendiri dengan gaya masing-masing. Tidak ada yang salah, atau yang lebih baik dari yang lain. Di sinilah peserta diminta menjadikan diri sendiri, tidak menyontek gerakan orang lain. Para Pemimpin Umum PGB yakni Bre Redana, Emiliano R, Iskandar Sabur, dan Dadan Juansyah yang menyaksikan presentasi gerak peserta dengan penemuannya sendiri tidak memberi penilaian apa pun. “Silakan menggunakan gerak masing- masing dengan gaya masing-masing. Jadikan diri masing-masing dalam bersilat. Jangan meniru orang lain,” pesan Bre Redana kepada peserta.

Para Pemimpin Umum PGB bersama Guru Besar PGB Gunawan Rahardja dan para Dewan Guru PGB, yakni Fadjar Suharno, Irwan Rahardja, Richard Wendt, Bram Makahekum, Holger Bormann, menyediakan diri menjadi nara sumber dalam diskusi memperdalam materi retreat.

Guru Gunawan Rahardja berpesan, untuk dapat menguasai delapan aspek silat, sam po kun, dan taokung, peserta retreat diminta terus berlatih. Silat itu hidup, berlatih saja, dan jangan dipikir. Gunakan panca indra dalam bersilat. Jadikan lawan sebagai obyek, jangan jangan jadikan subyek. Kita lah subyek.

Delapan Aspek

Ada delapan aspek yang harus dikuasai, disadari ketika kita sedang silat/sam po kun, atau taokung PGB Bangau Putih. Ke-8 aspek itu adalah:

1. Menggerakkan tangan dengan sadar, tidak melibatkan pundak, dan pinggang. Komponen tangan ini meliputi lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan, telapak tangan, dan jari-jari. Tangan kanan dan kiri. Semua komponen tangan dapat kita gunakan untuk beladiri. Masing-masing kompon tangan mendapat aliran energi alam, tinggal bagian mana yang mau digerakkan.

Potongan-potongan komponen tangan bisa digunakan secara mandiri dengan tidak melibatkan komponen lainnya. Misalnya jari bisa digunakan tanpa melibatkan lengan atas dan siku. Masing-masing komponen aspek tangan bisa kita gunakan secara mandiri, seperti halnya dalam sam po kun. Aspek tangan dengan seluruh komponennya harus selalu dilatih supaya memori latihan “nempel” pada tangan.

2. Pundak. Pundak dapat difungsikan secara mandiri dan berguna banyak untuk ambilan, serta mengubah posisi lawan yang semula mengancam berubah menjadi terancam. Sudah banyak dipelajari dan dipraktekkan mengenai penggunaan pundak. Dalam kesempatan retreat ini, penggunaan pundak dibahas lebih dalam, dan penggunaannya dalam silat/sam po kun/taokung.

3. Pinggang. Pinggang juga bagian tubuh terpenting dalam gerakan silat dan sam po kun PGB. Putaran pinggang dan bungkukan ke depan banyak terbukti membuat lawan terpelanting atau terjungkal. Gerakan pinggang juga independen, walaupun sering kali dirangkai dengan gerakan kaki dan pinggang. Pelatihan gerak dengan pinggang harus selalu dilakukan dan disadari penggunaannya, sehingga bisa berfungsi maksimal dalam gerak silat dan sam po kun. Gerakan pinggang dapat kita gunakan dalam banyak hal, seperti untuk tekiok dan lain-lain yang pernah kita praktikkan.

4. Kaki selain untuk menjaga pertahann tubuh, juga untuk mengubah posisi dan digerakkan untuk menjatuhkan lawan. Kaki terbagi dalam komponen- komponen, yakni paha, betis, pergelangan kaki, dan telapak kaki. Penggunaannya untuk berjalan, melangkah, bergeser, menekuk, menjejak, menendang, dan mengganjal, dan bahkan menjepit dan menggunting lawan supaya jatuh.

Seperti aspek anggota tubuh lainnya, kaki juga harus dilatih supaya benar-benar cerdas dan bergerak merespon gerakan lawan. Penggunaan fungsi kaki secara bervariasi telah dipraktekkan para peserta retreat dalam penerapan delapan aspek gerak silat/sam po kun/taokung.

5. Timing. Apa yang dimaksud dengan timing? Timing adalah bergerak tepat sesuai moment (right time), tidak telat dan tidak mendahului moment, tetapi pas saatnya bergerak. Sebagai contoh, ketika lawan memukul, kita secara tepat merespon dengan gerakan yang tepat waktu, sehingga pukulan dapat ditangkis, diterima untuk diambil, atau dibuang. Jika gerakan telat, tidak sesuai timing, maka kita tidak bisa mengelak atau membela diri, atau tidak berbuat apa-apa atas penyerang.

Padahal menurut guru besar PGB Bangau Putih Gunawan Rahardja, kita menghadapi lawan selalu menempatkan diri kita sebagai subjek, dan menempatkan diri lawan sebagai obyek. “Jangan pernah menjadikan lawan sebagai subjek. Kalah kita,” kata Gunawan Rahardja dalam diskusi Retreat Nasional 2019 itu.

6. Tempo. Tempo tidak sama dengan timing. Tempo itu irama seperti dalam musik. Di dalam tempo ada timing. Ketika tubuh merespon serangan, tubuh memberi reaksi sesuai timing. Lalu beberapa detik atau beberapa menit selanjutnya muncul tempo untuk mengambil atau balik menyerang lawan. Dalam diskusi retreat tersebut muncul perdebatan di antara peserta mengenai perbedaan timing dan tempo. Namun keduanya harus sering dirasakan dalam latihan secara terus menerus.

7. Feeling. Dalam penggunaan feeling, kita perlu berlatih secara rutin supaya menemukan feeling. Gerakan feeling seperti yang sering dilakukan peserta dalam latihan.

8. Posisi. Berlatih mengatur posisi juga suatu hal yang sangat penting dalam beladiri. Bila posisi kita tidak baik akan mudah diserang lawan. Dalam mengatur posisi, peserta retreat memahami posisi dalam dua hal. Pertama mengatur langkah dan tubuh untuk menempati posisi yang tepat dalam melakukan penyerangan atau mengambil dan tidak mudah diserang oleh lawan. Posisi kedua mengubah posisi lawan yang semula mengancam kita ubah menjadi terancam. Tentu saja gerakannya bervariasi tergantung situasi dan kondisi.(Penulis adalah peserta retreat PGB).